Peringatan! Cadangan Minyak Dunia Menipis saat AS – Iran Perang Lagi

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Pasar energi global kini berada dalam posisi yang amat rentan akibat menyusutnya cadangan minyak dunia darurat secara drastis. Dunia kehilangan pelindung utama yang semasih belumnya sukses meredam lonjakan harga saat krisis pertama terjadi.

Kemacetan distribusi di Selat Hormuz kembali memicu kelangkaan pasokan yang serupa bersama krisis komoditas semasih belumnya. Defisit energi ini diperparah oleh hilangnya jutaan barel dari pasar global dalam sejumlah bulan terakhir.

Data International Monetary Fund memperlihatkan selisih pasokan sebesar 4 juta barel per hari sepanjang Maret hingga Mei diatasi bersama menguras stok yang ada. Langkah darurat tersebut kini menyisakan ruang gerak yang amat sempit untuk stabilitas ekonomi dunia.

Saat konflik Iran bergejolak, International Energy Agency mengambil langkah ekstrem bersama melepas 400 juta barel minyak dari cadangan darurat mereka. Intervensi berskala masif ini sukses mencegah kehancuran pasar pada fase awal ketegangan.

Langkah penyelamatan juga sempat datang dari Asia ketika China memilih mengerem aktivitas kilang domestik mereka. Negeri Tirai Bambu tersebut makin memilih mengonsumsi stok internal ketimbang menjalankan pembelian agresif di pasar internasional.

Namun, IMF memperingatkan bahwa strategi penyelamat tersebut kini tidak dapat lagi diandalkan demi menyikapi tekanan baru. Seluruh instrumen peredam kejut eksternal ditentukan telah terkuras habis oleh tuntutan pasar global.

“Yang meredam dampak awal kali ini merupakan pasar energi memiliki ruang demi bermanuver dan menyerapnya,” tulis pihak IMF dalam pernyataan resminya, dikutip dari CNN Internasional.

“Kecuali persediaan diisi kembali, dunia akan memengawali dari posisi yang makin lemah ketika guncangan berikutnya datang,” tambah lembaga keuangan global tersebut.

Kondisi ini diperparah oleh laporan riset terbaru dari lembaga keuangan multinasional Goldman Sachs pekan ini. Mereka memproyeksikan China akan dalam waktu dekat kembali berburu minyak mentah dalam volume besar ke pasar internasional.

Langkah tersebut diambil lantaran Beijing wajib dalam waktu dekat mengisi kembali tangki penyimpanan mereka pasca-penurunan harga dari level tertingginya. Aksi borong ini berpotensi memicu perebutan pasokan yang semakin sengit di tingkat global.

Ketegangan geopolitik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah terus menjadi sumbu utama ketidakstabilan pasokan energi dunia. Selat Hormuz, yang bertindak sebagai jalur urat nadi logistik minyak mentah global, berulang kali merasakan gangguan operasional akibat konflik bersenjata.

Ketergantungan global pada cadangan strategis kini mencapai titik kritis lantaran proses pengisian kembali stok membutuhkan waktu bertahun-tahun. Akibatnya, setiap guncangan baru di jalur distribusi ditentukan akan langsung memukul konsumen tanpa adanya jaring pengaman.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article