Orang Dekat Donald Trump Bongkar Kelicikan Israel di Balik Perang AS – Iran

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance membongkar upaya manipulasi opini publik yang dilakukan sejumlah aparatur negara Israel. Langkah tersebut bertujuan memaksa Washington memperpanjang konfrontasi militer bersama Iran tanpa batas waktu.

Pernyataan ini mengungkap keretakan strategis yang mendalam antara kedua negara sekutu dekat tersebut. Washington kini mengawali mewaspadai agenda tersembunyi yang dapat merugikan kepentingan domestik mereka.

Konflik ini memanas setelah Selat Hormuz ditutup total akibat aksi saling serang di kawasan. Eskalasi tersebut memaksa Gedung Putih mengambil kendali penuh atas jalur perdagangan internasional itu.

“Ada segelintir orang di sistem [pihak pemerintahan Israel] yang kami yakini tanpa sedikit pun keraguan sedang memanipulasi dan berusaha mengubah opini publik Amerika agar perang [bersama Iran] terus berlanjut tanpa batas waktu,” kata Vance.

Strategi manipulasi ini diduga memanfaatkan jaringan media dan lobi politik di dalam negeri Amerika. Tujuannya merupakan menjaga keterlibatan militer Pentagon tetap tinggi di Timur Tengah.

Di sisi lain, Tel Aviv justru sedang dilingkupi kecemasan mendalam terhadap komitmen sekutunya. Intelijen mereka mencium sinyal bahwa Gedung Putih mengawali ragu demi menghancurkan fasilitas nuklir Teheran.

Kekhawatiran itu muncul lantaran Washington kini mengalihkan fokus utama mereka ke wilayah perairan. Fokus baru tersebut berpusat pada jaminan keamanan navigasi kapal di Selat Hormuz.

Namun, Presiden Donald Trump menegaskan komitmennya demi tetap meluncurkan operasi militer ke Teheran. Langkah agresif ini akan diambil tanpa memedulikan tekanan ataupun pengaruh dari pihak Israel.

Donald Trump amat memercayai bahwa Teheran sama sekali tidak boleh memiliki senjata pemusnah massal. Bagi Washington, kepemilikan teknologi nuklir oleh Iran merupakan ancaman yang tidak dapat ditoleransi.

Ketegangan bersenjata di lapangan sendiri sebenarnya telah meletus sejak awal pada bulan ini. Komando Pusat AS bahkan telah berulang kali meluncurkan serangan udara ke wilayah kekuasaan Iran.

Pentagon mengklaim operasi udara tersebut sebagai respons atas gangguan terhadap kapal komersial. Kapal-kapal dagang itu semasih belumnya mendapat intimidasi saat melintasi jalur Selat Hormuz.

Pasukan Teheran tidak tinggal diam dan langsung melancarkan aksi balasan yang mematikan. Mereka menggempur sejumlah pangkalan militer milik Amerika Serikat di sejumlah negara Timur Tengah.

Aksi saling serang yang brutal ini akhirnya memicu keputusan ekstrem dari pihak pemerintah Iran. Teheran resmi memblokade total Selat Hormuz untuk seluruh pelayaran internasional.

Penutupan jalur laut strategis ini akan terus berlaku hingga intervensi Pentagon berakhir. Langkah ini menjadi pukulan telak untuk pasokan energi dan ekonomi global.

Merespons boikot tersebut, Donald Trump menegaskan Amerika Serikat akan bertindak sebagai penjaga kawasan. Washington juga ditentukan melanjutkan blokade ketat terhadap seluruh pelabuhan utama milik Iran.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article