MediaKeadilan.com – Amerika Serikat berpeluang memperluas cakupan sanksi keuangan ke lembaga perbankan asal China yang terbukti memelihara hubungan bisnis bersama Iran. Sikap tegas ini diambil sebagai strategi baru demi menutup seluruh akses dana asing yang masih mengalir ke Iran.
Langkah pengetatan tersebut menjadi untukan dari “Operation Economic Outcast” yang diresmikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent sejak awal pekan. Program pemutusan rantai pasokan modal ini dirancang khusus demi memotong pendanaan yang menyokong rezim Teheran.
Rencana pembatasan aktivitas transaksi internasional itu memicu tanggapan keras dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi lewat surat resmi ke PBB. Pemerintah Iran mengimbau dunia internasional secara terbuka mengutuk tindakan paksaan ekonomi unilateral yang dilancarkan pihak Amerika Serikat.
“Siapa bilang saya tidak akan menjalankannya?” kata Trump kepada wartawan ketika ditanya mengapa AS tidak menjatuhkan sanksi terhadap entitas-entitas China terkait kegiatan bisnis mereka bersama Iran.
“Anda tidak tahu apakah saya menjalankannya … Saya tidak wajib mengumumkan seluruhnya, bukan?” ujarnya.
Apakah Sanksi Perbankan Ini Efektif Tekan Iran?
Gebrakan diplomasi ekonomi ini muncul menyusul dinamika militer yang sempat memanas di kawasan Timur Tengah sejak akhir Februari lalu. Saat itu, gabungan militer Washington dan Tel Aviv melancarkan serangkaian aksi gempuran langsung ke sejumlah titik strategis di Iran.
Aksi serangan mematikan tersebut direspon Teheran melalui tindakan balasan militer bersama intensitas yang setara. Eskalasi pertempuran meluas cepat semasih belum akhirnya kedua belah pihak menyepakati nota kesepahaman penghentian pertikaian pada pertengahan Juni.
Kendati kesepakatan damai telah ditandatangani, gencatan senjata tersebut berulang kali ternoda oleh aksi saling serang susulan. Situasi keamanan kawasan hingga kini berada dalam kondisi rapuh tanpa adanya penyelesaian konflik secara permanen.
Pemerintah AS kini sengaja mengubah taktik perang terbuka menjadi strategi perang saraf melalui pemblokiran jalur-jalur finansial global. Pengetatan arus modal bank-bank China diharapkan menjadi modal tawar utama Washington demi memaksakan kompromi politik.
Latar belakang ketegangan ini berakar dari gesekan militer langsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang pecah sejak 28 Februari. Pembentukan kampanye “Operation Economic Outcast” menandai babak baru transisi konflik dari ranah konfrontasi senjata ke ranah isolasi sistem keuangan internasional.
