MediaKeadilan.com – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menyebutkan pihaknya terus mendorong pemulihan ekonomi kreatif pascabencana di Sumatera Barat, khususnya Kota Payakumbuh. Salah satu wujud upaya ini merupakan melalui program Akselerasi Produk Kriya (Kriyasi) Anyam dan Sulam demi membangkitkan kembali produktivitas dan daya saing para tersangka kriya lokal.
Irene menyebutkan, sektor kerajinan anyaman dan sulam merupakan warisan budaya sekaligus salah satu penopang ekonomi kerakyatan yang potensial di Payakumbuh. Dalam upaya memulihkan ekonomi kreatif di Sumatera Barat, produk sulam dan anyam perlu terus dikembangkan agar memiliki nilai tambah dan semakin berdaya saing, baik di pasar nasional maupun internasional.
“Kegiatan ini merupakan untukan dari agenda Ekraf Peduli, sebagai wujud kepedulian dan komitmen Keaparatur negara kementerianan Ekraf dalam mendampingi para tersangka ekonomi kreatif demi kembali pulih, memperkuat usaha, dan bangkit, melalui semangat ‘Pulih Bersama, Bangkit Berdaya’,” kata Irene dalam keterangan yang diterima di Jakarta, akhir pekan pada hari semasih belumnya.
Penguatan potensi lokal ini selaras bersama tren pertumbuhan ekonomi kreatif nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Keaparatur negara kementerianan Ekraf, subsektor kriya terus memperlihatkan kinerja positif.
Nilai ekspornya meningkat dari 3,47 miliar dolar AS pada Januari-April 2025 menjadi 3,82 miliar dolar AS pada periode yang sama 2026. Pada 2025, subsektor kriya juga berkontribusi 10,7 persen terhadap ekonomi kreatif, bersama pertumbuhan sebesar 2,36 persen.
Irene menyebutkan agar produk lokal mampu menembus pasar yang makin luas, ia mengimbau demi para perajin menciptakan produk yang memiliki nilai cerita sejarah dan makna yang mendalam berakibat pembeli tidak cuma menyaksikan fisik produk namun juga memahami produk tersebut bernilai tinggi.
“Cerita pada sebuah produk itu penting agar pembeli tahu alasan dan makna di balik barang yang mereka beli. Tanpa adanya cerita, orang cuma akan menyaksikan barang dari keindahan bentuk dan harganya saja. Padahal buatan tangan manusia mengandung nilai sejarah dan doa yang tidak sempat dapat digantikan oleh mesin, ketika pembeli memahami cerita di baliknya, saya yakin produk lokal ini tidak cuma bernilai tinggi, namun juga mampu menembus pasar yang makin luas,” ungkap Irene.
Program Kriyasi Anyam Keaparatur negara kementerianan Ekraf berkolaborasi bersama Pemerintah Kota Payakumbuh demi mempercepat pemulihan dan meningkatkan kapasitas tersangka usaha kriya yang terdampak bencana. Pendampingan dilakukan melalui pengembangan desain, peningkatan keterampilan produksi, serta pengembangan produk sesuai kebutuhan pasar.
Workshop ini diikuti 50 peserta, terdiri atas 25 perajin kriya anyam dan 25 perajin kriya sulam. Peserta memperoleh pemaparan dan praktik langsung dari Rumpun Consulting demi produk sulam serta Balai Besar Kerajinan dan Batik demi produk anyam.
Melalui pelatihan ini, para perajin diharapkan dapat merevitalisasi material dan pengetahuan kerajinan melalui pengembangan produk yang relevan bersama kebutuhan pasar, meningkatkan kesadaran tentang pentingnya cara berpikir desain, serta meningkatkan kualitas dan nilai tambah pada hasil karya. Semua itu diharapkan berujung pada peningkatan perekonomian yang makin baik.
