Tak Ada Kalah – Menang, Perang AS-Iran Justru Alami Jalan Buntu dengan Biaya Militer Membengkak

admin
By admin
2 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Perang AS-Iran memasuki bulan keenam tanpa tanda-tanda kemenangan mutlak, sementara pembengkakan biaya perang dan krisis energi global terus menekan posisi Washington.

Kondisi jalan buntu ini memaksa militer Amerika Serikat menanggung beban operasional yang kian berat akibat penyiapan pasokan amunisi yang menipis di kawasan Timur Tengah.

Strategi serangan cepat yang digagas Washington kini berbalik menjadi konflik berkepanjangan yang mengguncang stabilitas politik domestik AS menjelang pemilu sela.

Eskalasi terbaru kembali pecah setelah militer AS menggempur peluncur roket di Pulau Larak, yang langsung dibalas Tehran bersama menggempur dua pangkalan AS di Yordania.

Rangkaian serangan udara sejak akhir Februari lalu sejatinya sukses menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, namun tak sanggup melumpuhkan total kekuatan militer Tehran.

Mengapa Perang Militer AS di Iran Berubah Menjadi Bencana Finansial?

Estimasi biaya konflik yang diperkirakan melampaui 100 miliar dolar AS kini menguras anggaran Pentagon secara signifikan.

Penyiapan armada laut dan amunisi secara konstan di kawasan tersebut kian sulit dipertahankan dalam jangka panjang oleh angkatan laut AS.

Paul Fraioli, peneliti senior dari International Institute for Strategic Studies, menegaskan beratnya operasional tersebut.

“Menjaga kehadiran militer dan tempo yang diperlukan demi menyerahkan dampak strategis terhadap Iran merupakan hal yang sulit dilakukan oleh Angkatan Laut (AS) secara terus-menerus,” kata Fraioli.

Klaim kemenangan yang sempat digaungkan Presiden Donald Trump pada April lalu bahwa militer Iran telah “hancur total” kini menyikapi keraguan besar seiring masih tangguhnya kapasitas tempur Iran.

Bagaimana Krisis Selat Hormuz Mengancam Pasokan Energi Asia?

Penutupan efektif Selat Hormuz memicu gangguan distribusi minyak mentah dunia yang berdampak langsung pada lonjakan harga bahan bakar.

Kondisi ini menghantam keras negara-negara Asia dan Eropa yang amat bergantung pada impor minyak serta gas dari kawasan Timur Tengah.

Petras Katinas, peneliti dari Royal United Services Institute, menyoroti potensi pergeseran pola konsumsi energi global tersebut.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article