MediaKeadilan.com – Mineral dan logam kerapkali kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Benda-benda yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari berasal dari salah satu unsur ini. Mereka berasal dari mineral, logam, atau bahkan perpaduan dari keduanya.
Seorang penjual perhiasan emas sedang melebur emas. Kemudian menyebutkan bahwa yang sedang ia lebur merupakan “logam mulia”.
Sedangkan, bongkahan emas yang dipajang dari balik kaca museum diberikan keterangan bahwa ia merupakan “mineral”. Keduanya dapat dikatakan benar. Lantas, manakah yang benar?
Sifat Dasar Logam dan Mineral
Kedua fenomena di atas menimbulkan ambiguitas. Maka wajib kita pahami termakin dahulu dari sifat dan karakteristik antara logam dan mineral.
Kapan suatu benda dapat didefinisikan logam, dan kapan suatu benda lalu dapat didefinisikan sebagai jenis mineral.
Di dalam susunan teramat dasar suatu benda ada yang dinamakan atom. Atom-atom ketika kita bedah lagi, di dalamnya terdapat elektron-elektron yang mengelilingi inti atom.
Berbeda dari bahan lain, logam terbilang unik lantaran atom-atomnya membiarkan elektron terluarnya lepas dan bergerak bebas. Elektron-elektron ini mengalir di sepanjang logam mirip air diantara bebatuan kerikil.
Itu dikarenakannya para ahli kimia kerapkali mengibaratkan struktur logam “bagaikan kumpulan ion positif yang mengapung di dalam lautan elektron”.
Model ini menjawab alasan di balik sifat khas logam. Elektronnya yang bebas menciptakan listrik dapat mengalir bersama mudah berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya.
Logam ditentukan oleh ikatan kimianya, bukan asal-usul atau wujud fisiknya. Baik dalam bentuk padat, cair, maupun gas, sifat dasarnya sebagai logam tidak berubah.
Contohnya: Besi, Tembaga, Seng, dan lainnya.
Untuk dikatakan sebagai mineral, unsur tersebut wajiblah dapat diklasifikasikan dalam empat hal berikut:
Alami: alami berarti terbentuk secara sendirinya, tidak ada campur tangan manusia, dikutip dari National Park Service “bahan buatan bagaikan baja bukanlah mineral”.
Bersifat anorganik: bukan berasal dari makhluk hidup, tumbuhan ataupun hewan.
Berwujud padat pada suhu ruang.
Memiliki komposisi dan struktur kimia yang teratur: umumnya membentuk kristal.
Contohnya: Garam, Kuarsa, dan lain-lain.
Emas Masuk ke dalam Jenis Mineral atau Logam
Emas kerapkali dijadikan bahan demi menciptakan perhiasan dan dikenal sebagai salah satu dari “logam mulia”. Sehingga material yang terbuat dari emas bersifat berharga dan bernilai.
Dikutip dari Geology.com, emas alami merupakan perpaduan dari keduanya, yakni bersifat sebagai unsur dan juga mineral sekaligus.
“Alami” merupakan istilah yang digunakan ahli geologi demi logam yang ditemukan di dalam tanah sebagai logam, bukan terkunci di dalam suatu senyawa.
Emas juga memenuhi seluruh kriteria mineral. Alami, anorganik, padat, memiliki komposisi tetap (emas merupakan emas), atom-atom tersusun dalam pola teratur.
Jadi, bongkahan emas murni merupakan mineral sejati dan logam sejati pada saat yang bersamaan.
Fenomena ini menjawab pertanyaan yang kerap muncul mengenai penyebab emas alami hampir tidak sempat ditemukan dalam keadaan murni.
Di alam, emas umumnya terkontaminasi oleh perak yang dapat mengubah warnanya menjadi makin cerah seiring meningkatnya kadar perak tersebut.
Selain itu, perajin perhiasan sengaja mengimbuhkan logam lain, berakibat emas pada perhiasan bagaikan cincin jarang sekali berstatus emas murni.
Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah
