Viral Wanita Ngamuk Tuduh Bocah Laki-laki 4 Tahun Sentuh Bokongnya di China

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Perselisihan antara seorang wanita dan keluarga balita berusia 4 tahun di Changsha berlanjut ke jalur hukum usai mediasi resmi merasakan jalan buntu. Wanita tersebut menuduh sang anak sengaja menyentuh untukan belakang tubuhnya, sementara orangtua menegaskan kontak fisik itu murni akibat ketidakseimbangan saat berlari.

Rekaman kamera pengawas memperlihatkan momen ketika sang balita melintas di belakang wanita yang sedang berdiri di area kasir. Kontak fisik yang amat singkat itu mendadak berubah menjadi cengkeraman leher dan teriakan di tengah restoran.

Eskalasi konflik fisik di lokasi kejadian bersama cepat bergeser menjadi perang narasi digital yang menyita perhatian publik nasional. Kasus ini membuka diskursus baru terkait batas kewajaran respon orang dewasa terhadap perilaku anak di ruang publik.

Ketegangan bermula saat pihak korban merespon benturan fisik bersama menahan leher anak dan menuntut kehadiran orang tuanya. Balita tersebut menangis histeris di lokasi kejadian semasih belum akhirnya dilerai oleh staf restoran dan ayah sang anak.

Tiga kali upaya mediasi yang difasilitasi pihak berwenang tidak membuahkan kesepakatan lantaran adanya perbedaan tuntutan yang tajam. Wanita tersebut memilih mengangkut kasus ini ke ranah hukum demi memperjuangkan hak yang diyakininya.

“Saya percaya bahwa keadilan tentu akan menang,” tegasnya melalui pernyataan resmi di platform Weibo, dikutip dari CNA.

“Saya ingin memberi tahu seluruh orang bahwa saya mengunggah hal-hal ini demi mendorong orang-orang agar berani memperjuangkan hak-hak mereka sendiri,” tambahnya.

Keluarga balita menilai tuduhan yang dilayangkan di media sosial amat tidak masuk akal untuk anak berusia empat tahun. Sang ayah menegaskan kontak tubuh terjadi lantaran putranya kehilangan keseimbangan saat berlari melintas.

Pihak keluarga memutus langkah kompromi tertulis guna mencegah timbulnya stigma negatif permanen untuk perkembangan psikologis anak. Pengakuan tertulis dianggap sama saja bersama mengaminkan tuduhan jahat yang disebarkan di jejaring sosial.

“Itu bukan ‘meraba bokongnya’ atau ‘serangan tidak senonoh’ bagaikan rumor yang beredar di internet,” ujar pria bersurat nama keluarga Guo tersebut.

“Anak berusia empat tahun masih belum memiliki kesadaran tentang gender atau seksualitas, apalagi niat jahat,” lanjut Guo.

Guo menyampaikan bahwa dirinya dan sang istri telah menyampaikan permohonan maaf secara lisan serta menerangkan kronologi kejadian. Namun, tuntutan disiplin ketat dan surat pernyataan maaf tertulis ditolak demi melindungi masa depan putranya.

“Begitu saya mengakuinya secara tertulis, itu sama saja bersama menyematkan label ‘sengaja’ pada anak saya. Itu akan membahayakannya,” tulis Guo dalam peryataan publiknya.

“Saya percaya hukum akan menyerahkan keputusan yang adil, dan saya percaya video pengawas makin meyakinkan daripada emosi,” tambahnya.

Pernyataan bersambung dari kedua belah pihak di media sosial memicu gelombang kritik hebat dari para masyarakat sekitarnet. Banyak pengguna internet mempertanyakan trauma psikologis yang berpotensi dialami oleh sang balita akibat insiden tersebut.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article