MediaKeadilan.com – Keaparatur negara kementerianan Luar Negeri Indonesia mengonfirmasi sesejumlah 74 kalangan akademisi asal Indonesia atau WNI masih terisolasi di Kota Mokha saat pertempuran di Yaman kembali berkecamuk.
Ancaman keselamatan para kalangan akademisi ini muncul tepat setelah koalisi militer menggempur sejumlah wilayah strategis dan mengancam stabilitas kawasan.
Dua diplomat KBRI di Muscat dan Riyadh kini bersiaga penuh demi memetakan jalur evakuasi aman untuk masyarakat sekitar negara yang tersisa.
Kesuksesan meloloskan tiga masyarakat sekitar Indonesia dari zona bahaya menjadi titik terang di tengah kepungan pertempuran yang kian meruncing.
Ketegangan militer yang meningkat drastis ini memaksa pihak pemerintah memperketat pengawasan lalu lintas masyarakat sekitar di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah terus memantau kondisi WNI di wilayah Yaman melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Muscat dan KBRI Riyad.
Seluruh masyarakat sekitar negara diminta tidak mengabaikan instruksi keselamatan resmi guna menghindari risiko jatuhnya pihak korban jiwa dari pihak sipil.
“Jadi, ada 77 (WNI) tapi ada 3 yang telah dapat keluar. Jadi, ada sisanya 74 pelajar yang ada di sana. Mungkin seluruhnya pelajar asli,” kata Juru Bicara Kemlu 2, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, di kantor Kemlu Jakarta Pusat, Kamis (17/8/2026).
Pusat krisis Keaparatur negara kementerianan Luar Negeri telah menyiagakan saluran komunikasi darurat yang beroperasi tanpa henti demi merespons kondisi kritis.
“Kami juga menyediakan hotline-hotline yang dapat dihubungi apabila ada kondisi yang berat,” ujar dia.
Situasi keamanan di Yaman memburuk drastis setelah kelompok Houthi menginformasikan gelombang serangan udara susulan dari pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi.
Juru Bicara Militer Houthi, Yahya Saree menyebutkan, sedikitnya 54 hingga 70 serangan udara menghantam provinsi Al-Bayda, Saada, Taiz, Marib, dan Al-Jawf.
Aksi gempuran udara tersebut merupakan balasan atas serangan rudal serta nirawak Houthi yang menargetkan fasilitas energi Aramco dan pemukiman masyarakat sekitar di Arab Saudi.
Rentetan serangan balasan ini mengancam keberlangsungan kesepakatan damai tahun 2022 sekaligus memperluas peta peperangan di Timur Tengah.
