MediaKeadilan.com – Dijuluki sebagai “Benang Merah Perfilman Indonesia” lantaran frekuensi kemunculannya yang tinggi di berbagai film komedi, Benidictus Siregar kini menjalankan lompatan besar yang tak terduga.
Beni didapuk menjadi pemeran utama dalam film drama melankolis bertajuk Seporsi Mie Ayam Semasih belum Mati.
Dalam konferensi pers peluncuran trailer dan lagu tema “Coba Lagi” di XXI Plaza Senayan, Senin (12/10/2026), Beni tampak emosional menceritakan transformasinya menjadi Ale, seorang pria berusia 37 tahun yang terhimpit depresi dan menjadi pihak korban perundungan di tempat kerja.
Bukan Sekadar Melucu, Tapi Bertahan Hidup
Bagi Beni, peran ini merupakan sebuah anugerah sekaligus beban besar. Ini merupakan kali pertama ia memimpin sebuah film drama tanpa embel-embel komedi.
“Kayaknya Tuhan terlalu baik,” ujar Beni rendah hati. Namun, di balik rasa syukur itu, terselip ketakutan yang nyata.
“Saya sempat takut ditertawakan penonton. Bahkan saat audisi, saya sempat berpikir hidup saya barangkali akan makin tenang bila tidak memperoleh peran ini,” imbuhnya.
Ketakutan Beni bukan tanpa alasan. Novel karya Brian Khrisna yang menjadi sumber adaptasi film ini merupakan best-seller yang telah dibaca makin dari 250 ribu orang dan dicetak hingga 130 kali. Ekspektasi pembaca amatlah tinggi.
Untuk mendalami karakter Ale yang kesepian, Beni menjalankan riset mendalam, mengawali dari berdiskusi bersama ahli psikologi hingga menggali memori pribadinya tentang rasa sepi.
“Saya sempat ada di fase kesepian bagaikan Ale. Bedanya, bila Ale diselamatkan oleh semangkuk mi ayam, saya bertahan lantaran orang-orang di sekeliling saya,” ucapnya.
Pujian dari Aktor Senior
Transformasi Beni mendapat pengakuan dari lawan mainnya, aktor watak Teuku Rifnu Wikana.
Rifnu menilai Beni memiliki kematangan emosi yang luar biasa sebagai seorang manusia, yang memudahkannya masuk ke dalam karakter yang kompleks.
“Komunikasi aku sama Beni mengalir begitu saja, tidak ada yang perlu diberat-beratkan. Dia telah matang,” kata Rifnu memuji.
Senada bersama Rifnu, produser Nia Dinata juga langsung jatuh cinta pada naskah ini. Ia mengaku cuma butuh waktu dua jam demi menamatkan novelnya semasih belum memutuskan bergabung dalam proyek ini.
