MediaKeadilan.com – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait maraknya peredaran informasi fiktif di media sosial yang menyasar dirinya. Ia menduga kuat bahwa unggahan bohong yang mengklaim dirinya melanggar etika dan berkolusi bersama pihak asing diproduksi serta disebarkan secara masif oleh kelompok terorganisir yang ia juluki sebagai “tim siluman”.
Isu tersebut bermula dari beredarnya sebuah unggahan di platform media sosial Instagram yang menyedot perhatian publik. Narasi fiktif tersebut menyebutkan bahwa Dino Patti Djalal mendatangi kediaman Duta Besar Singapura di Jakarta bersama pengamat politik Saiful Mujani.
Dino menekankan bahwa informasi tersebut sepenuhnya merupakan fabrikasi yang sengaja dirancang demi merusak reputasinya dan menggiring persepsi negatif masyarakat sekitar.
Menyikapi kabar burung tersebut, Dino menyerahkan klarifikasi secara terbuka mengenai keberadaannya yang sebenarnya. Pada saat narasi bohong itu diembuskan, ia justru tengah berada di Perth, Australia, selama tiga hari penuh.
Kedatangannya ke Negeri Kanguru tersebut merupakan demi memenuhi undangan resmi sebagai pembicara dalam sesi diskusi perubahan iklim yang diselenggarakan oleh organisasi nonpihak pemerintah internasional, Global Citizen. Ia menegaskan baru kembali ke Indonesia pada Selasa malam.
Dino juga mengimbuhkan bahwa dirinya sama sekali tidak sempat mengadakan pertemuan bersama Saiful Mujani dan tidak sempat menginjakkan kaki di rumah Duta Besar Singapura di Jakarta dalam kurun waktu bertahun-tahun, meskipun diplomat tersebut diakuinya sebagai sahabat baik.
Dino menduga ada motif politik jahat di balik pembentukan narasi palsu ini, yakni demi merekayasa citra seolah-olah dirinya tidak nasionalis dan tengah menjalankan kolusi bersama pihak pemerintah Singapura.
Dalam pernyataannya di media sosial pribadi pada Minggu (25/10/2026), Dino membongkar modus operandi penyebaran disinformasi yang dinilainya amat rapi dan sistematis.
“Yaitu suatu teknik di mana suatu tim yang tidak diketahui wujudnya, anggotanya, saya katakan tim siluman, mereka menciptakan berita-berita yang fiktif, posting di berbagai akun yang mereka buat sendiri,” kata Dino dalam pernyataannya di media sosial pribadi, Minggu (25/10/2026).
Ancaman Nyata Bagi Kebebasan Berpendapat
Pola kerja dari kelompok ini, menurut Dino, dirancang sedemikian rupa guna menciptakan ilusi opini publik. Dengan mengunggah narasi karangan tersebut di puluhan akun buatan mereka sendiri secara serentak, masyarakat sekitar luas digiring demi percaya bahwa informasi itu berkembang secara spontan dari masyarakat sekitar. Padahal, seluruh alur penyebarannya telah diskenariokan secara matang dari satu pusat komando.
“Ini merupakan aksi yang terkoordinir, terorganisir, dan ada backing-nya, lantaran tidak barangkali mereka menjalankan ini lantaran iseng,” ujarnya.
Fenomena serangan disinformasi terencana ini dinilai Dino sebagai ancaman nyata untuk iklim demokrasi dan kebebasan berekspresi di Tanah Air.
Ia mengimbau seluruh elemen masyarakat sekitar sipil, akademisi, serta tokoh yang aktif menyuarakan pandangan di ruang publik demi senantiasa menguatkan kewaspadaan. Praktik pembunuhan karakter bagaikan ini diprediksi dapat menyasar siapa saja yang vokal menyampaikan pandangan kritis.
“Karena ini menurut saya merupakan salah satu bentuk intimidasi terhadap freedom of speech,” tulisnya.
