MediaKeadilan.com – Persoalan sampah di lingkungan kampus tidak cuma berkaitan bersama seberapa sejumlah sampah yang dihasilkan setiap hari. Di baliknya, ada tantangan yang makin besar, mengawali dari pemilahan, pengelolaan, hingga bagaimana sampah tersebut dapat kembali memiliki nilai dan tidak berakhir begitu saja di tempat pembuangan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam program Jejak Asri On The Move yang digelar di Universitas Indonesia (UI), Depok, pada 22 Oktober 2026.
Dalam kegiatan yang melibatkan Center of Sustainability and Waste Management (CSWM UI), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI, dan Kampanye Indonesia Asri yang diinisiasi PT Chandra Asri Pacific Tbk, berbagai pihak berdiskusi mengenai peluang penerapan ekonomi sirkular di lingkungan kampus.
Direktorat Operasi, Pemeliharaan Fasilitas dan Manajemen Aset (DOPFMA UI) menyebut aktivitas di lingkungan UI menghasilkan sekitar lima ton sampah setiap hari. Angka tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan yang tidak berhenti pada pengangkutan dan pembuangan.
Salah satu gagasan yang mengemuka merupakan konsep Circular Campus, yakni bagaimana lingkungan perguruan tinggi dapat membangun sistem yang mebarangkalikan sumber daya digunakan secara makin efisien, sekaligus mengurangi timbulan sampah.
Dalam diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD), CSWM UI memperkenalkan kerangka Sustainable Social Innovation yang mencakup tujuh aspek, yakni kepemimpinan, regulasi, infrastruktur, finansial, organisasi, teknologi, dan kesadaran.
Kerangka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat diberakhirkan cuma bersama menambah tempat sampah atau menghadirkan teknologi pengolahan. Ada sistem yang perlu dibangun, termasuk kebijakan, pendanaan, kelembagaan, hingga keterlibatan masyarakat sekitar kampus.
Vice Principal of CSWM UI Adam Febriyanto Nugraha menyebutkan penerapan prinsip ekonomi sirkular di kampus juga dapat menjadi kesempatan demi menyaksikan sampah dari perspektif berbeda.
“Penerapan prinsip ekonomi sirkular di kampus tidak cuma berpotensi meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah, namun juga menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang selama ini masih belum dimanfaatkan secara optimal,” ujar Adam.
Menurutnya, kampus memiliki posisi strategis lantaran tidak cuma menjadi tempat demi menerapkan solusi, namun juga ruang belajar dan bereksperimen untuk generasi muda.
“Lebih jauh, kampus dapat menjadi ruang pembelajaran dan inovasi demi mengembangkan solusi keberlanjutan yang dapat direplikasi di lingkungan yang makin luas, sekaligus membangun budaya dan ekosistem ekonomi sirkular yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan,” lanjutnya.
Keterlibatan kalangan akademisi menjadi untukan penting dalam proses tersebut. Melalui BEM UI, kalangan akademisi diberi ruang demi menyampaikan perspektif, bertukar gagasan, sekaligus menyaksikan persoalan pengelolaan lingkungan dari sisi yang dekat bersama kehidupan sehari-hari mereka.
Head of Corporate Communication Chandra Asri Group, Chrysanthi Tarigan, menilai keterlibatan generasi muda dapat menjadi pintu masuk demi mengubah kepedulian terhadap lingkungan menjadi aksi nyata.
“Kolaborasi bersama perguruan tinggi menjadi kesempatan demi bersama-sama menggali gagasan dan mengembangkan praktik ekonomi sirkular yang relevan bersama kebutuhan kampus,” kata Chrysanthi.
Gagasan Circular Campus pada akhirnya bukan sekadar tentang mengurangi jumlah sampah. Lebih dari itu, konsep ini mengajak seluruh penghuni kampus menyaksikan kembali bagaimana sumber daya digunakan, bagaimana sampah dikelola, dan bagaimana setiap orang dapat mengambil untukan.
Dari ruang kelas, organisasi kalangan akademisi, hingga aktivitas sehari-hari di lingkungan kampus, generasi muda memiliki kesempatan demi ikut membentuk kebiasaan baru yang makin berkelanjutan.
Jika sukses diterapkan, praktik tersebut bukan cuma menciptakan kampus makin ramah lingkungan, namun juga menjadi bekal untuk lahirnya solusi yang dapat dibawa ke masyarakat sekitar yang makin luas.
