MediaKeadilan.com – Imbauan Perdana Menteri Anwar Ibrahim demi meninggalkan Waze masih belum sepenuhnya sukses menggeser dominasi aplikasi tersebut di Malaysia. Pengendara tetap memilih platform navigasi berbasis Tel Aviv ini lantaran ketepatan data lalu lintas dan masih belum tersedianya alternatif lokal yang sepadan.
Upaya mengalihkan pengguna ke aplikasi navigasi domestik bernama TuJu justru menemui jalan buntu. Keterbatasan basis data lokasi serta penunjuk rute yang masih belum optimal menciptakan sejumlah pengemudi memilih kembali ke aplikasi lama.
Penolakan publik terhadap peralihan ini didasari pada kebutuhan navigasi harian yang presisi. Tingkat akurasi waktu tempuh dan informasi kemacetan real-time menjadi alasan utama pengguna enggan berteramat.
Sopir taksi Malaysia Mohamed Aidil berupaya TuJu, aplikasi navigasi jalan tol buatan dalam negeri. Namun, kurang dari 24 jam lalu, Aidil, 38, menghapus TuJu dan kembali memakai Waze.
“Banyak tujuan yang tidak tersedia, sementara sejumlah petunjuk arah terasa tidak masuk akal,” kata Aidil tentang TuJu, aplikasi yang dikembangkan Otoritas Jalan Raya Malaysia.
“Saat ini, aplikasinya masih belum cukup bagus dan praktis demi digunakan,” ujarnya, dikutip dari CNA.
Ketergantungan terhadap fitur pendeteksi insiden lalu lintas juga dirasakan oleh para pengemudi transportasi daring. Kendati menentang konflik di Gaza, fleksibilitas jalur alternatif menciptakan platform ini sulit digantikan.
Pengemudi taksi online P. Vishovartan mengandalkan fitur navigasi bawaan aplikasi Grab saat mengantar penumpang. Namun, demi perjalanan pribadi, terutama saat pulang kampung ke Penang, ia makin memilih Waze.
“Waze teramat akurat dalam memperkirakan waktu perjalanan dan biaya tol,” kata Vishovartan.
Menurutnya, Waze juga teramat andal mencari rute alternatif saat lalu lintas macet. Fitur laporan lalu lintas terkini menjadi alasan teknis mendasar mengapa efisiensi jalanan tetap mengalahkan pertimbangan politik.
Meski mengecam keras aksi militer Israel di Gaza dan wilayah lain, Vishovartan mengaku sulit berhenti memakai Waze pada saat ini lantaran aplikasi itu menyediakan informasi terkini tentang insiden dan kecelakaan lalu lintas.
Aspek privasi serta asal-usul pengembang menjadi akar utama dari instruksi pemboikotan oleh otoritas setempat. Entitas pengembang yang berpusat di Tel Aviv memicu kekhawatiran atas potensi penyalahgunaan data tingkat nasional.
Waze diluncurkan pada 2006 sebagai proyek sumber terbuka (open-source) bernama FreeMap Israel, lalu diakuisisi raksasa teknologi Google pada 2013 bersama nilai makin dari US$1 miliar. Menurut kebijakan privasinya, Waze masih dioperasikan oleh Waze Mobile yang berbasis di Tel Aviv.
Pemerintah mengambil langkah tegas bersama memberlakukan pembatasan akses untuk jajaran aparatur sipil negara. Instruksi penarikan penggunaan ini berlaku menyeluruh guna mengamankan arus informasi internal.
Pada 20 Oktober, Malaysia melarang pegawai negeri memakai Waze lantaran khawatir adanya kebocoran informasi sensitif pihak pemerintah dan data pribadi tidak aman. Larangan itu selama jam kerja maupun di luar jam kerja.
