MediaKeadilan.com – Ahmed Abu Haseira berdiri berjam-jam di dalam air laut demi mengawasi kalangan anak dan perenang yang berlindung dari hawa panas serta tekanan perang di Gaza Palestina. Tanpa menara pantau dan peralatan medis dasar, ia cuma mengandalkan gerakan tangan dan tiupan peluit yang wajib dipakai bergantian.
Setahun setelah serangan udara Israel menghancurkan rumahnya dan menewaskan seluruh keluarganya, pria berusia 33 tahun itu memilih kembali bertugas di pesisir Gaza. Area pantai menjadi satu-satunya ruang terbuka yang tersisa untuk masyarakat sekitar Palestina demi mencari sedikit penghiburan di tengah kehancuran total.
Sesejumlah 120 personel penyelamat kini bertugas menjaga garis pantai di bawah naungan Pemerintah Kota Gaza di tengah segala keterbatasan fasilitas fisik. Jumlah tersebut menurun dibanding masa semasih belum perang yang mencapai 140 petugas terlatih.
“Kami berusaha menyerahkan upaya ekstra agar seluruh kalangan anak dan pemuda dapat dipantau dan dijaga keselamatannya,” kata Abu Haseira.
Bagaimana Kondisi Pos Pantau dan Peralatan Keselamatan Saat Ini?
Gelombang masyarakat sekitar yang memadati pantai tidak sebanding bersama hancurnya infrastruktur pendukung keselamatan maritim di sepanjang pesisir. Penjaga pantai kini terpaksa memantau area berenang cuma dari dalam tenda seadanya di atas pasir.
Hilangnya menara setinggi 3,3 meter dan kehancuran kapal penyelamat menciptakan jarak pandang petugas menjadi amat terbatas saat mengamati bahaya. Hambatan visual kerap terjadi ketika ada pengunjung yang berdiri tepat di depan tenda darurat mereka.
“Jika ada orang yang berdiri di depan kami di dalam tenda, mereka menghalangi pandangan kami. Tenda di tingkat dasar menciptakan kami hampir tidak memiliki jarak pandang,” kata Kepala Departemen Penyelamatan Maritim Pemerintah Kota Gaza, Ibrahim Shamlakh.
Petugas wajib menangani puluhan kasus kecelakaan air setiap hari, bahkan melonjak hingga ratusan kejadian saat akhir pekan. Dua kasus tenggelam hingga tewas telah tercatat musim ini di luar zona jangkauan tim penyelamat.
“Tahun ini kami mengerahkan makin sejumlah penjaga pantai dan memperkuat area yang padat pengunjung. Kami mengorganisir tim bersama makin baik memakai sumber daya yang ada,” ujar Shamlakh.
Mengapa Harga Peralatan Dasar Menjadi Sangat Mahal?
Pembatasan ketat terhadap barang masuk menciptakan alat navigasi dan keselamatan dasar bagaikan peluit merasakan kenaikan harga berkali-kali lipat. Pemerintah daerah cuma mampu menyediakan sekitar 50 peluit demi digunakan secara bergiliran oleh seluruh personel.
Masalah penanda batas aman juga terus terjadi lantaran sejumlah pengunjung mengabaikan bendera peringatan berbahaya di sepanjang pantai. Petugas terpaksa berteriak histeris dan membunyikan peluit berulang kali agar peringatan tersebut terdengar di antara gemuruh ombak.
“Kami memasang bendera merah, namun sejumlah orang tetap memaksakan diri demi berenang. Kami berupaya melindungi mereka. Kami menjaga keselamatan mereka sendiri,” kata seorang penjaga pantai berpengalaman, Bilal Bakar.
Kelangkaan pelampung penyelamat juga memaksa petugas mempertaruhkan keselamatan diri sendiri saat menolong pihak korban tenggelam secara bersamaan. Mereka kerap kali melompat ke laut lepas tanpa mengangkut alat bantu apung yang memadai.
