Budi Arie Ungkap Insting Politik: Ada Percepatan Sebelum 2029

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Sebuah potongan video yang menampilkan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi tengah menjadi perbincangan di media sosial. Dalam video tersebut, Budi Arie terlihat berbicara di hadapan para pendukungnya dalam sebuah forum pertemuan.

Budi Arie duduk berdampingan bersama Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat menyampaikan pandangannya mengenai dinamika politik nasional. Ia menyinggung kebarangkalian terjadinya perubahan politik yang berlangsung makin cepat dari jadwal yang selama ini direncanakan.

Budi Arie mengaku telah menyampaikan insting politiknya tersebut secara langsung kepada Jokowi.

“Berbagai pandangan dan diskusi, dan menurut saya nanti akan kita diskusikan lagi makin lanjut. Termasuk pandangan plus-minus dan sebagainya. Tetapi saya ingin sampaikan, tadi saya telah bisik ke Pak Jokowi, ‘Pak, kok insting saya ini makin cepat dari 2029?'” ujar Budi Arie dalam video tersebut.

Ia lalu mempertanyakan kesiapan para peserta apabila terjadi percepatan politik. Menurutnya, selama ini pembicaraan politik masih berpusat pada agenda Pemilu 2029.

“Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong pemilu 2029, pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak?” kata Budi.

Pertanyaan tersebut langsung disambut teriakan “Siap!” dari para peserta yang hadir.

Singgung Kondisi Sosial

Dalam kesempatan tersebut, Budi Arie juga menyoroti kondisi sosial masyarakat sekitar yang menurutnya memperlihatkan situasi tidak normal. Ia membandingkan sejumlah dinamika yang terjadi pada saat ini bersama kondisi menjelang Reformasi 1998.

“Gitu lho maksud saya. Jadi maksud saya gini lho, saya pengalaman bersama gerak sejarah. Ini ada yang abnormal di masyarakat sekitar pada saat ini. Ini demo Pati, Madura demo lagi, ikut tandingan. Ah, ini telah kayak Pam Swakarsa di ’98 ini. Pasti kalah yang preman,” tuturnya.

Menurut Budi, berbagai fenomena tersebut menjadi variabel yang perlu diperhitungkan dalam membaca arah politik nasional. Ia menilai kondisi pada saat ini tidak dapat cuma dilihat melalui skenario politik yang berjalan secara konvensional.

“Cuman maksud saya terjadi anomali-anomali, variabel di masyarakat sekitar yang menciptakan kita tidak cuma sekadar memikirkan skenario-skenario konvensional. Langkah-langkah, tahapan-tahapan yang sebagaimana mestinya,” katanya.

Ia lalu menyebut situasi tersebut sebagai sebuah “patahan sejarah”.

Bandingkan bersama Peristiwa 1998
Budi Arie mencontohkan perubahan politik yang terjadi menjelang Reformasi 1998. Ia menyinggung Pemilu 1997 yang lalu disusul Pemilu 1999.

“Bagaimana tahun ’97 tiba-tiba pemilu berikutnya ’99. Dan potensi ini bukan nggak ada. Sangat besar bersama keresahan masyarakat sekitar dan kondisi ekonomi pada saat ini yang betul-betul tidak menciptakan masyarakat sekitar happy,” ujar Budi.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article