Nutrisi Keluarga Harus Tetap Optimal: Tips Bijak Belanja di Tengah Tekanan Ekonomi

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Tekanan ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan pokok menciptakan keluarga perlu semakin cermat mengatur pengeluaran. Namun, berhemat bukan berarti wajib mengorbankan kualitas gizi makanan sehari-hari.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam media talk Forum Ngobras dan Frisian Flag Indonesia bertajuk “Budget Boleh Minimal, Nutrisi Harus Tetap Optimal” di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Kepala Lembaga Demografi sekaligus dosen dan peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) I Dewa Gede Karma Wisana menyebutkan, tekanan ekonomi dapat terlihat dari perubahan pola belanja masyarakat sekitar.

Berdasarkan data SUSENAS 2024 dan 2025, belanja nonmakanan meningkat 5,98 persen, sementara itu belanja makanan cuma bertambah 3,16 persen. Kondisi tersebut memperlihatkan adanya trade off dalam rumah tangga ketika wajib memenuhi kebutuhan lain, bagaikan bahan bakar dan biaya hidup.

“Jadi ada trade off atau penukaran lantaran wajib tetap beli bahan bakar misalnya, berakibat lalu memilih makanan yang makin sederhana,” kata Dewa.

Menurut Dewa, kelompok masyarakat sekitar bersama pendapatan makin rendah juga cenderung mengalokasikan porsi pendapatan yang makin besar demi makanan. Pada kelompok pendapatan terbawah atau kuintil 1, pengeluaran pangan mencapai 63,2 persen dari pendapatan. Sementara pada kuintil 5, porsinya sekitar 40,5 persen.

Ketika anggaran semakin terbatas, persoalan yang muncul bukan cuma soal jumlah makanan, namun juga kualitas gizinya. Masyarakat cenderung tetap membeli sumber karbohidrat bagaikan beras, sementara konsumsi lauk sumber protein berkurang.

“Orang cenderung fokus ke sumber karbohidrat, tapi minim gizi,” ujarnya.

Jangan Terjebak Anggapan Makanan Sehat Harus Mahal

Ahli Nutrisi Tara Mutiara Ramdani menyebutkan, salah satu langkah penting dalam mengatur belanja makanan merupakan mengubah anggapan bahwa makanan sehat senantiasa identik bersama bahan pangan mahal.

“Makanan sehat itu tidak wajib mahal. Jangan sampai kita punya mindset bahwa makanan sehat identik bersama bahan pangan tertentu, misalnya ikan salmon,” kata Tara.

Menurut dia, keluarga dapat memanfaatkan beragam bahan pangan lokal yang makin terjangkau. Sumber karbohidrat, misalnya, tidak wajib senantiasa berasal dari nasi putih. Umbi-umbian bagaikan kimpul dapat menjadi alternatif.

Untuk memenuhi kebutuhan protein, tempe dan tahu dapat menjadi pilihan ekonomis. Namun, protein hewani juga tetap perlu diperhatikan, terutama demi kalangan anak.

Tara menyebut telur dan ikan sebagai dua pilihan sumber protein hewani yang relatif terjangkau. Keduanya dapat menjadi pilihan sehari-hari tanpa wajib senantiasa membeli daging yang harganya makin tinggi.

“Apalagi, Indonesia negara kepulauan; keanekaragaman ikan amat tinggi. Ikan juga mengandung lemak tak jenuh yang sehat,” jelasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article