MediaKeadilan.com – Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mendesak negara Arab di kawasan Teluk demi membentuk aliansi pertahanan bersama demi menyikapi ancaman musuh nyata.
Langkah diplomatik ini diambil di tengah hancurnya perekonomian domestik akibat blokade laut serta sanksi ketat yang dilancarkan Amerika Serikat.
Ketegangan regional yang kian memuncak memaksa Tehran mengubah pola pendekatan politiknya terhadap kerajaan-kerajaan Teluk yang selama ini menjadi rival geopolitiknya.
Gagasan persatuan ini menjadi penawaran strategis baru Iran demi menggalang kekuatan Islam di tengah gempuran militer serta tekanan finansial yang terus meluas.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa Tehran berusaha memecah isolasi diplomatik yang mengancam stabilitas pihak pemerintahannya sejak perang meletus.
Pesan tertulis yang dipublikasikan melalui saluran Telegram resminya dalam rangka Pekan Persatuan Islam tersebut menekankan pentingnya kerja sama di berbagai sektor.
Dokumen itu menyebutkan bahwa pihak manapun yang memicu perpecahan di antara sesama umat Islam secara langsung telah menolong kepentingan musuh.
Ia menyerukan agar negara-negara tetangga tidak membiarkan kehancuran melanda kawasan cuma lantaran tidak adanya kesepakatan kolektif.
“Rekomendasi saya yang tegas dan berulang kali kepada para penguasa negara-negara Islam, khususnya negara-negara di Asia Barat dan Teluk, merupakan kenalilah musuhmu yang sebenarnya, pahami rencananya, dan hadapilah,” kata Khamenei.
Khamenei juga mempertanyakan keberanian pihak asing dalam menguasai wilayah strategis Middle East apabila seluruh pihak pemerintah Teluk berdiri di bawah bendera yang sama.
“Apakah penjahat tanpa identitas akan berani menginginkan tanah dan harta benda kalian apabila rakyat dan pihak pemerintah Teluk bersatu di bawah bendera Islam?” kata Khamenei.
Ia turut menyoroti nasib masyarakat sekitar Palestina yang terus terdesak akibat tiadanya solidaritas nyata dari negara-negara Muslim di sekitarnya.
“Apakah masyarakat sekitar Palestina akan dibiarkan begitu tidak berdaya apabila umat Islam bersatu?” kata Khamenei.
Pernyataan publik ini menjadi kemunculan tertulis kesekian kalinya dari sang Pemimpin Tertinggi setelah tidak sempat terlihat secara langsung di hadapan publik selama enam bulan terakhir.
Ketidakhadiran fisiknya terjadi sejak ia terluka dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Situasi internal Iran sendiri kian terdesak setelah serangan balik Tehran ke fasilitas militer Amerika Serikat di Teluk justru memperkeruh hubungan bersama tetangganya.
Mengapa Perekonomian Iran Terus Merosot Tajam?
