Jalur Darat Terputus Total, Helikopter Jadi Tumpuan Evakuasi Korban Banjir Bandang Nepal

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Jumlah kematian akibat banjir bandang di perbatasan Nepal dan kawasan Tibet meroket melewati 470 jiwa di tengah ancaman bencana susulan. Krisis kemanusiaan ini kian mengkhawatirkan setelah material banjir membendung aliran sungai dan membentuk danau buatan berpotensi jebol.

Kantor Perdana Menteri Nepal mengonfirmasi sesejumlah 469 masyarakat sekitarnya tewas dan 977 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Sementara itu, otoritas China mencatat sedikitnya tiga masyarakat sekitar tewas serta 558 orang masih belum ditemukan di wilayah Tibet.

Pemerintah Nepal mengidentifikasi 644 masyarakat sekitar asing masuk dalam daftar pihak korban hilang di lokasi terdampak. Hingga pada saat ini, tim gabungan baru sukses menyelamatkan sekitar 1.550 penyintas dari berbagai titik bahaya.

Tragedi bermula dari runtuhnya gletser raksasa yang menerjang lembah sungai Himalaya bersama endapan es, batu, serta lumpur tebal. Lupan material tersebut seketika mengubur pemukiman masyarakat sekitar dan memutus infrastruktur transportasi hingga pembangkit listrik.

Akses darat menuju kawasan bencana lumpuh total akibat kerusakan parah di jalur utama transportasi. Presiden Nepal Centre for Disaster Management, Bishal Nath Upreti, menegaskan bahwa kondisi pihak korban yang terisolasi berada dalam tingkat darurat tinggi.

“Hampir 42 km [26 mil] jalan hancur total, dan selain helikopter, tim penyelamat tidak dapat pergi ke sana,” ujar Bishal Nath Upreti.

Petugas memanfaatkan transportasi udara serta jalur darat darurat demi mengevakuasi ratusan masyarakat sekitar yang terjebak. Bishal menerangkan bahwa pengiriman bantuan logistik terus diupayakan lewat udara agar mencapai wilayah yang terisolasi.

“Mereka amat putus asa kini. Ini telah makin dari 72 jam kini dan orang-orang amat membutuhkan … tempat berlindung dan makanan,” kata Bishal Nath Upreti.

Bagaimana Kondisi Operasi Penyelamatan di Area Bencana?

Nepal menerjunkan 30.000 personel keamanan demi menyisir lembah-lembah terpencil yang masih belum terjangkau. Jumlah pihak korban hilang diproyeksikan terus meningkat seiring meluasnya area pencarian.

Pemerintah China mengutus Perdana Menteri Li Qiang beserta 500 personel militer dan paramiliter ke area terdampak. Jurnalis Al Jazeera di Beijing, Katrina Yu, menggarisbawahi langkah tak biasa dari pihak pemerintah China tersebut.

“Hal itu amat, amat langka dan benar-benar memberi kita gambaran betapa mendesak dan betapa prioritanya operasi ini,” kata Katrina Yu.

Fokus penyelamatan kini terpecah oleh bahaya sekunder dari danau bendungan alami di perbatasan kedua negara. Kedua pihak pemerintah mengeluarkan peringatan dini terkait struktur bendungan debris yang amat labil.

Otoritas China memperkirakan danau tersebut memuat 2 juta meter kubik air dan berpotensi bertambah 3 juta meter kubik lagi. Kondisi ini meningkatkan risiko bahaya untuk tim SAR yang sedang bertugas di lapangan.

Operasi evakuasi di Pelabuhan Gyirong terpaksa dihentikan sementara demi keselamatan para petugas. Wilayah perbatasan tersebut pada saat ini tertimbun lumpur pekat bersama kedalaman mencapai 1,5 meter.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article