MediaKeadilan.com – Bayangkan sebuah film kolosal bersama ribuan prajurit, set kerajaan yang megah, dan medan perang yang luas, namun diproduksi tanpa satu pun kamera, tanpa lokasi syuting, bahkan tanpa seekor kuda pun di lapangan.
Hal yang terdengar mustahil ini baru saja diwujudkan oleh studio kreatif Kampanye AI melalui serial terbaru mereka, Jaka Tingkir Saga: Bengawan Sore.
Serial ini mencetak sejarah sebagai tayangan kolosal pertama di Indonesia yang diproduksi sepenuhnya, 100 persen, memakai teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence).
Menghidupkan kembali memori kejayaan drama kolosal era 90-an, serial ini mengangkut napas baru untuk legenda Pajang-Jipang bersama kualitas visual yang setara layar lebar.
Menembus Batas Imajinasi Tanpa Biaya Miliaran
Dalam peluncuran perdananya di Hades VIP, Jakarta (3/9/2026), CEO Kampanye AI, Andi Sultan, membeberkan bahwa proyek ini merupakan pembuktian besar.
Biasanya, produksi kolosal membutuhkan anggaran puluhan miliar Rupiah, ratusan kru, dan persiapan fisik yang melelahkan.
“Di sini tidak ada lokasi syuting, tidak ada set kerajaan yang dibangun, tidak ada ratusan figuran. Seluruh dunia Bengawan Sore, mengawali dari pendopo Pajang hingga detail pertempuran di tepi sungai, dihasilkan sepenuhnya oleh AI,” ujar Andi Sultan.
Meski memakai AI, sentuhan manusia tetap menjadi ruh utama. Setiap adegan diarahkan bersama pendekatan “Sinema AI”, di mana sutradara tetap memegang kendali penuh atas tata kamera, pencahayaan, hingga koreografi silat yang presisi melalui ribuan instruksi visual (prompt) yang rumit.
Wajah Familiar dalam Balutan Teknologi
Menariknya, meski diproses secara digital, serial ini tetap “dibintangi” oleh deretan aktor ternama yang wajah dan karakternya dihidupkan kembali lewat AI.
Dian Sidik tampil gagah sebagai Jaka Tingkir, bersanding bersama Adelia Rasya sebagai Ratu Kalinyamat.
Aktor laga senior Choky Andriano tidak cuma menjabat sebagai CEO Kampanye AI, namun juga memerankan sang antagonis legendaris, Arya Penangsang.
Deretan nama lain bagaikan Dede Wijaya Pratama, Angga Candra, hingga Rianto turut memperkuat jajaran karakter dalam saga ini.
“Ini bukan sekadar remake. Ini merupakan cara baru bercerita. Kami ingin generasi 90-an dan kalangan anak mereka dapat menikmati legenda Nusantara bersama pengalaman visual yang benar-benar baru,” ucap Choky Andriano.
