Donald Trump Tuduh Iran Otaki Serangan Pipa Minyak Arab Saudi

admin
By admin
4 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Serangan drone beruntun dari wilayah Irak memaksa Kerajaan Arab Saudi menghentikan total operasi East-West Pipeline demi alasan keamanan. Penutupan jalur logistik vital ini langsung memicu ancaman baru untuk pasokan energi global yang sedang bergolak.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump terang-terangan menunjuk Tehran sebagai pihak yang teramat bertanggung jawab atas sabotase fasilitas pengangkut 5 juta barel minyak per hari tersebut. Pernyataan tegas ini disampaikan Trump saat berada di Dublin, Irlandia, setelah menyambut baik laporan kerusakan dan pihak korban luka di lokasi kejadian.

Ancaman ini menjadi preseden buruk lantaran merusak satu-satunya jalur alternatif pengiriman minyak Saudi menuju Laut Merah saat Selat Hormuz diblokir. Lumpuhnya infrastruktur ini memicu eskalasi politik baru antara Washington, Riyadh, dan Tehran.

“Saya pikir mereka, kebarangkalian besar memang mereka,” ujar Trump kepada wartawan di Dublin saat ditanya mengenai keterlibatan Iran, dikutip dari CNN Internasional, Minggu (13/9/2026).

Meski begitu, ketegangan di lapangan masih diliputi ketidaktentuan mengenai siapa eksekutor sebenarnya dari aksi sabotase udara tersebut. Perlawanan Islam di Irak, yang merupakan kelompok payung milisi sokongan Iran, secara tegas membantah keterlibatan mereka.

Pemerintah Irak bergerak cepat merespons insiden tersebut bersama mengutuk keras serangan yang melintasi wilayah udaranya. Baghdad langsung memerintahkan penyelidikan darurat sekaligus memperketat dan menutup sejumlah titik perbatasan darat.

Keaparatur negara kementerianan Energi Arab Saudi mengonfirmasi bahwa aksi penembakan drone secara mendadak tersebut telah menimbulkan pihak korban luka serta kerusakan fisik pada instalasi. Tim teknis dan keamanan kini diturunkan ke lokasi demi mensterilkan area dan menghitung total kerugian infrastruktur.

Insiden ini memperpanjang deretan masalah keamanan untuk Riyadh yang tengah menyokong pihak pemerintah sah Yaman melawan gerilyawan Houthi. Di saat bersamaan, kelompok Houthi justru makin gencar menguasai pelabuhan serta pulau strategis di sekitar perairan Laut Merah.

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan telah menjalin komunikasi intensif bersama pihak Gedung Putih guna membahas langkah mitigasi. Namun, usulan tindakan militer langsung terhadap basis Houthi masih belum disepakati oleh Washington.

Respons resmi Gedung Putih menegaskan bahwa fokus utama AS pada saat ini merupakan mengonfirmasi keselamatan navigasi maritim di kawasan tersebut. AS juga menekankan pentingnya memberdayakan mitra regional demi memimpin penyelesaian krisis keamanan di wilayah mereka sendiri.

Trump sendiri berusaha meredakan kepanikan pasar global bersama menegaskan optimisme bahwa lalu lintas pelayaran minyak akan kembali normal.

“Semuanya akan berakhir baik-baik saja,” kata Trump meyakinkan publik saat ditanya mengenai krisis maritim di Selat Hormuz.

East-West Pipeline memegang peranan amat krusial sebagai urat nadi ekspor minyak Arab Saudi selama konflik AS-Iran berkecamuk. Jalur darat sepanjang ratusan kilometer ini membentang dari fasilitas penampungan di Teluk Persia menuju Pelabuhan Yanbu di pinggir Laut Merah.

Keberadaan pipa ini mebarangkalikan Saudi mengalihkan beban pengiriman jutaan barel minyak mentah tanpa wajib melewati Selat Hormuz yang rawan blokade. Ketika jalur pelayaran Teluk Persia lumpuh total akibat konflik, East-West Pipeline menjadi satu-satunya tumpuan penyalur energi ke pasar dunia.

Dengan terhentinya aliran minyak di jalur alternatif ini, ancaman krisis pasokan energi dunia ditentukan makin nyata. Arab Saudi kini menyikapi tantangan ganda demi mengamankan aset energi dalam negeri sekaligus menjaga kelancaran pasokan pasar internasional.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article