Perbedaan Penyakit Rabun Jauh Miopi dan Rabun Dekat Hipermetropi Beserta Jenis Lensanya

admin
By admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Rabun jauh (miopi) dan rabun dekat (hipermetropi) merupakan kondisi gangguan penglihatan yang teramat kerap dijumpai.

Meski sama-sama memengaruhi kemampuan mata dalam menyaksikan objek, rabun jauh miopi dan rabun dekat hipermetropi memiliki perbedaan, baik dari objek yang sulit dilihat maupun jenis lensa yang digunakan demi mengoreksinya.

Berikut merupakan pembahasan lengkap mengenai perbedaan miopi dan hipermetropi beserta jenis lensa korektif yang digunakan.

Rabun Jauh (Miopi)

Miopi atau rabun jauh merupakan kondisi ketika seseorang dapat menyaksikan objek yang berada di dekatnya bersama makin jelas, namun kesulitan menyaksikan objek yang letaknya jauh.

Kondisi ini terjadi ketika bentuk bola mata terlalu panjang atau kornea terlalu melengkung berakibat cahaya yang masuk ke mata jatuh di depan retina, bukan tepat pada retina.

Gejala Umum:

Rabun Dekat (Hipermetropi)

Berbeda bersama miopi, hipermetropi atau rabun dekat menciptakan seseorang makin sulit menyaksikan objek yang berada pada jarak dekat. Objek yang jauh biasanya dapat terlihat makin jelas dibandingkan objek yang dekat.

Hipermetropi dapat terjadi ketika bola mata terlalu pendek atau bentuk kornea terlalu datar. Akibatnya, cahaya yang masuk ke mata akan difokuskan di belakang retina.

Gejala Umum:

Jenis Lensa Korektif yang Digunakan

Untuk mengembalikan ketajaman penglihatan, penderita gangguan refraksi memerlukan kacamata atau lensa kontak khusus yang disesuaikan bersama jenis kelainannya.

Lensa Cekung (Minus / Divergen) demi Miopi

Penderita miopi membutuhkan lensa cekung (lensa negatif/minus).

Cara Kerja: Lensa ini bersifat menyebarkan cahaya (divergen) semasih belum masuk ke dalam mata. Dengan membiaskan cahaya sedikit ke luar, titik fokus yang tadinya jatuh di depan retina akan digeser tepat ke permukaan retina.

Tanda Dioptri: Pada resep kacamata, nilainya ditandai bersama tanda minus (contoh: -1.50 D).

Lensa Cembung (Plus / Konvergen) demi Hipermetropi

Penderita hipermetropi membutuhkan lensa cembung (lensa positif/plus).

Cara Kerja: Lensa ini bersifat mengumpulkan cahaya (konvergen). Lensa cembung membiaskan cahaya ke dalam semasih belum masuk ke mata, berakibat titik fokus yang tadinya jatuh di belakang retina dapat ditarik maju tepat ke permukaan retina.

Tanda Dioptri: Pada resep kacamata, nilainya ditandai bersama tanda plus (contoh: +2.00 D).

Kesimpulannya, miopi dan hipermetropi didikarenakankan oleh perbedaan bentuk fisik bola mata dan letak pembentukan titik fokus cahaya terhadap retina. Miopi menciptakan objek jauh menjadi kabur dan diatasi memakai lensa cekung (minus), sementara itu hipermetropi menciptakan objek dekat menjadi kabur dan diatasi memakai lensa cembung (plus).

Jika Anda merasakan gejala pandangan kabur atau kerap merasa lelah pada mata, disarankan demi menjalankan pemeriksaan refraksi mata ke optometris atau dokter spesialis mata demi memperoleh resep lensa yang tepat.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article