Kriyanusa 2026 Tak Lagi Sekadar Pameran, Kriya Nusantara Dibawa ke Dunia Digital

admin
By admin
4 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Pameran kerajinan biasanya identik bersama deretan produk yang dipajang demi dilihat. Namun, Kriyanusa 2026 berupaya mengubah pengalaman tersebut bersama mengangkut kriya dan budaya Nusantara ke ruang digital imersif.

Melalui teknologi ini, pengunjung tidak cuma menyaksikan visual, namun juga dapat berinteraksi memakai sentuhan maupun wajah. Teknologi imersif tersebut menjadi salah satu pembeda Kriyanusa 2026 yang digelar pada 26-30 September 2026 di Jakarta Convention Center (JCC).

Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Tri Tito Karnavian menyebutkan, konsep tersebut terinspirasi dari pengalaman Indonesia di World Expo Osaka.

“Ini memang di eranya digital. Di sana kita dapat memasuki ruangan bersama suasana yang menyatu bersama pengunjung dan ini merupakan pengalaman yang barangkali pertama kali di pameran-pameran kerajinan di Indonesia,” ujar Tri Tito dalam konferensi pers Kriyanusa 2026 di Kantor Keaparatur negara kementerianan Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Jumat (18/9).

Kriya Masuk Ruang Digital

Meski mengandalkan teknologi, Kriyanusa tetap menjadikan karya perajin dan budaya daerah sebagai inti. Tahun ini, Sumatera Selatan menjadi ikon pameran bersama kekayaan kriya, wastra, dan warisan budaya yang menjadi untukan dari desain maupun rangkaian acara.

Kriyanusa 2026 mengusung tema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia”. Dekranas ingin produk kerajinan tidak cuma bertahan dari sisi produksi, namun juga memiliki peluang makin besar di pasar global.

“Tema ‘Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia’ maksudnya merupakan hasil-hasil kerajinan ini wajib berkesinambungan, tidak cuma dalam siklus yang satu kali, tapi siklus yang terus-menerus yang tentu juga memperhatikan aspek lingkungan,” jelas Tri Tito.

Berdasarkan data BPS yang disampaikan Tri Tito, ekspor kerajinan Indonesia pada 2025 mencapai sekitar Rp20 triliun. Dekranas ingin capaian tersebut terus meningkat melalui penguatan kualitas dan daya saing perajin.

“Kami ingin mencapai pasar dunia, lantaran ternyata serapan demi ekspor kerajinan Indonesia sendiri pada 2025 menurut data dari BPS itu mencapai Rp20 triliun. Kita ingin capaian dapat makin meningkat,” katanya.

410 Booth dan Konsep Kampung Sumsel

Kriyanusa 2026 melibatkan 257 peserta bersama 410 booth yang menampilkan batik, tenun, songket, anyaman, keramik, ukiran, hingga karya modern berbasis tradisi. Produk yang hadir telah melalui proses kurasi.

Ketua Panitia Pelaksana Kriyanusa 2026 Ayu Heni Rosan menyebutkan membeli produk kriya juga berarti menyerahkan apresiasi kepada perajinnya.

“Kalau kita membeli suatu produk kriya, tidak cuma membeli suatu barang namun kita juga mengapresiasi perajin-perajin kita bersama usaha kerasnya, bersama tenaganya, dan ciptaan produknya yang diberikan,” ucap Ayu.

Sebagai ikon, Sumatera Selatan akan mengangkut konsep “Kampung Sumatera Selatan” yang memperkenalkan produk dari 17 kabupaten/kota, termasuk ukiran kayu khas Palembang serta kuliner daerah.

“Kami juga mempromosikan serta memperkenalkan dan memasarkan, lantaran kabupaten kota itu kaya akan warisan budaya kita. Kami juga mempunyai konsep dalam kegiatan ini merupakan konsepnya Kampung Sumatera Selatan,” kata Ketua Dekranasda Sumatera Selatan, Feby Herman Deru.

Selain pameran, pengunjung dapat mengikuti fashion show, talk show, pertunjukan musik dan tari, termasuk Gending Sriwijaya dan tari piring.

Kriyanusa 2026 pada akhirnya tidak cuma menawarkan tempat demi menyaksikan dan membeli produk kerajinan. Teknologi imersif digunakan demi mempertemukan warisan budaya bersama pengalaman digital, sekaligus membuka cara baru agar kriya Nusantara makin dekat bersama generasi muda dan pasar global.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article