Celah Kode Makin Menumpuk, AWS Andalkan AI untuk Temukan hingga Perbaiki Kerentanan

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menciptakan celah keamanan pada software semakin cepat ditemukan. Masalahnya, kemampuan korporasi memperbaiki kerentanan masih belum tentu mampu mengejar kecepatan tersebut.

Head of Security Solutions Architecture, APJC, Amazon Web Services (AWS), Bryce Boland, menyebutkan waktu yang dimiliki penyerang demi mengeksploitasi kerentanan juga semakin pendek.

“Penemuan kerentanan semakin cepat, waktu demi menciptakan eksploit semakin singkat, sementara ritme penambalan dan tumpukan patch yang wajib ditangani korporasi tidak mampu mengikuti percepatan tersebut,” kata Bryce dalam temu wartawan secara daring, masih belum lama ini.

Menurut Bryce, jumlah CVE yang dilaporkan mencapai sekitar 48.000 pada 2025, naik 20 persen secara tahunan. Pada 2026, lajunya kembali meningkat, dari sekitar 5.000 CVE per bulan pada kuartal I menjadi sekitar 10.000 per bulan pada kuartal III.

Di sisi lain, sejumlah korporasi masih mengandalkan patching bulanan. Akibatnya, daftar kerentanan yang wajib ditangani dapat semakin menumpuk.

AI Bisa Membantu Penyerang dan Defender

AI tidak cuma mempercepat pekerjaan tim keamanan. Teknologi yang sama juga dapat dimanfaatkan penyerang demi mencari celah dan menciptakan eksploit.

“AI modern menghadirkan kemampuan luar biasa demi pertahanan maupun serangan siber. Kemampuan yang menolong tim keamanan menemukan kerentanan makin cepat juga dapat menolong penyerang menemukannya makin cepat,” ujar Bryce.

Karena itu, AWS menilai pertahanan siber juga wajib mampu bekerja bersama kecepatan mesin.

AWS Andalkan Continuum

Untuk menjawab tantangan tersebut, AWS mengembangkan AWS Continuum, layanan berbasis AI yang dirancang menangani siklus kerentanan mengawali dari penemuan hingga perbaikan. AWS menerangkan Continuum dapat menemukan, memprioritaskan, memvalidasi, dan menolong memperbaiki risiko keamanan dalam batasan yang ditentukan pengguna.

“Continuum merupakan agen frontier yang secara otomatis meninjau keamanan aplikasi, menemukan kerentanan, dan bahkan dapat menjalankan pengujian penetrasi berdasarkan konteks sesuai permintaan,” kata Bryce.

Continuum dapat menolong menjalankan threat modeling, design review, code review, dan penetration testing. Sistem juga dapat menentukan prioritas berdasarkan dampak bisnis, memvalidasi apakah celah benar-benar dapat dieksploitasi, serta menolong menghasilkan perbaikan.

Namun, AI tidak langsung diberi kendali penuh.

“Perusahaan sebaiknya memengawali bersama persetujuan manusia demi tindakan berisiko tinggi, lalu secara bertahap mengurangi pengawasan ketika agen memperlihatkan bahwa mereka mampu bekerja secara efektif dan dapat dipercaya,” jelas Bryce.

Dengan pendekatan tersebut, AWS ingin menggeser keamanan dari proses yang bergantung pada pemeriksaan berkala menjadi penanganan kerentanan yang makin berkelanjutan.

Di tengah jumlah celah yang terus bertambah, tantangannya bukan lagi sekadar menemukan kerentanan, namun mengonfirmasi validasi dan perbaikannya dapat bergerak secepat ancaman.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article