Bappenas Klaim Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Tembus 10% lewat Pertanian dan Hilirisasi

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy menilai bila pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 10 persen apabila sektor pertanian dan hilirisasi menjadi fokus utama.

Rachmat mencontohkan dari kasus Vietnam, yang mana negara tetangga RI di Asia Tenggara itu dapat mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 10 persen. Ia menyebut bila Vietnam sukses mendorong sektor pertanian hingga hilirisasi dalam bentuk ekspor.

Ia menyebutkan apabila Indonesia menerapkan strategi serupa, maka pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 10 persen, tak cuma 8 persen sesuai visi Pemerintah pada saat ini.

“Kenapa Vietnam dapat tumbuh sampai di atas 10 persen? Karena pertanian mereka didorong dan ditumbuhkan mengawali dari on-farm-nya, processing-nya, sampai ekspornya. Kalau itu dapat dikerjakan, maka pertumbuhan ekonomi kita bukan saja 8 persen, tapi dapat di atas 10 persen,” katanya dalam acara Launching Dashboard Indeks Akses Keuangan di Daerah (IKAD) yang dipantau virtual, Senin (19/10/2026).

Kepala Bappenas lalu menceritakan soal kondisi ekonomi Indonesia di era Orde Baru, tepatnya tahun 1970 hingga 1980-an. Di masa itu, ia menyebut bila pertumbuhan ekonomi RI dapat mencapai dua digit.

Rachmat beralasan bila saat itu ada dua faktor yang dilakukan Pemerintah. Mulai dari sektor pertanian yang tumbuh bersama cepat, hingga hilirisasi yang juga digenjot.

“Dengan begitu maka inklusi keuangan sekaligus dua, pertumbuhan dari hal yang mendasar dan pertumbuhan dari nilai tambah yang kita dapat dapatkan,” imbuhnya.

Ia juga menyinggung pada saat ini sejumlah orang mempertanyakan pertumbuhan ekonomi 8 persen terlalu tinggi. Rachmat menegaskan bila pertumbuhan ekonomi 8 persen tinggi apabila dirasakan oleh masyarakat sekitar kelompok menengah ke atas hingga amat kaya.

Berbanding terbalik bersama kelompok menengah ke bawah bersama penghasilan Rp 5 juta per bulan. Jika tumbuh 20 persen, mereka cuma menambah pendapatan Rp 1 juta.

“Buat mereka amat amat kurang. Nah kini kita bagaimana menjalankan pertumbuhan yang merata tanpa kesenjangan.  Kita tidak ingin negara kita bagaikan negara-negara yang baru saja terjadi looting, terjadi riot. Kita belajar dari mereka. Pertumbuhannya tinggi, kesejahteraannya tinggi, namun tidak merata. Karena itu yang dijarah merupakan kawasan-kawasan yang eksklusif,” jelasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article