Strategi Kemenkeu Ciptakan Pertumbuhan Ekonomi 6% di 2027

admin
By admin
5 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Pemerintah melalui Keaparatur negara kementerianan Keuangan (Kemenkeu) membeberkan strategi demi mencapai target pertumbuhan ekonomi 6 persen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2027 mendatang.

Direktur Strategi APBN, Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kemenkeu, Wahyu Utomo menegaskan bila Pemerintah menyiapkan tiga strategi utama yakni pendekatan pragmatis, transformatif, dan diplomatis.

Dia membeberkan, strategi komprehensif tersebut wajib dijalankan agar Indonesia tidak terjebak pada angka pertumbuhan yang stagnan di 5 persen.

“Kita ingin tahun 2027 pertumbuhan tinggi, 6 persen. Di mana dong caranya, kan gitu? Defisitnya kecil tapi kok pertumbuhannya tinggi? Nah, ini kita memakai tiga pendekatan. Jadi demi tumbuh tinggi tidak dapat bersama cara-cara biasa. Kalau bersama cara biasa, teramat levelnya 5 persen,” ujar Wahyu Utomo dalam diskusi publik Outlook Ekonomi 2027 di Kantor Katadata, Jakarta, dikutip Rabu (21/10/2026).

Wahyu menerangkan, strategi pragmatis berfokus pada intervensi langsung di titik-titik strategis perekonomian yang memiliki kontribusi terkuat terhadap pertumbuhan.

Dari sisi pengeluaran misalnya, Pemerintah akan mengarahkan belanja negara agar terkoneksi langsung bersama konsumsi rumah tangga yang mendominasi sebesar 54 persen, serta investasi di angka 29 persen.

Lalu dari sisi produksi, insentif pajak atau belanja perpajakan (tax expenditure) akan difokuskan secara presisi pada sektor manufaktur yang menopang 19 persen pertumbuhan, ditambah sektor perdagangan dan pertanian.

Sementara secara spasial, akselerasi alokasi anggaran keaparatur negara kementerianan atau lembaga dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) akan digenjot, terutama di Pulau Jawa yang pada saat ini menyumbang 57 persen perekonomian nasional.

“Itu fokusnya di sektor-sektor yang manufaktur, perdagangan, termasuk yang terkait bersama pertanian. Harapannya dapat juga dorong pertumbuhan,” beber dia.

Untuk strategi transformatif, Kemenkeu menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi. Wahyu menegaskan bahwa instrumen fiskal tidak dapat dibiarkan bekerja sendirian, melainkan wajib dikolaborasikan bersama sektor moneter, sektor keuangan, hingga kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

“Danantara itu kita anggap sebagai two arms of the state, dua tangan negara yang digunakan demi menjadi sumber pertumbuhan. Kemudian kita juga akan mengubah mindset, tidak barangkali suatu saat kita cuma mengandalkan konsumsi,” beber dia.

Lebih jauh, Wahyu juga menekankan perlu adanya pengalihan dana kepada kebutuhan investasi yang berorientasi pada ekspor serta menekankan pada hilirasasi beragam sektor.

“Harusnya kuncinya shifting ke investasi, tapi yang berorientasi ekspor, menekankan pada hilirisasi dan industrialisasi. Nah transformatif ini intinya perlu kolaborasi, tidak dapat fiskal sendirian,” ucap Wahyu.

Adapun strategi ketiga merupakan pendekatan diplomatis yang bertujuan memperluas akses penetrasi pasar ke kancah global. Perekonomian pada saat ini kata dia, tidak lagi sekadar berbasis teritorial, melainkan ekonomi lintas batas cross-border economy.

Lewat diplomasi ekonomi, Pemerintah akan mengakselerasi masuknya investasi asing, memperluas cakupan perdagangan demi mendongkrak ekspor, hingga membuka peluang penempatan tenaga kerja di luar negeri.

“Investasi dapat diakselerasi, perdagangan juga diperluas berakibat ekspor kita meningkat, tenaga kerja memberi peluang demi kerja di luar negeri,” ucap dia.

Namun, Wahyu mengingatkan bahwa ketiga strategi transformasi ekonomi tersebut mutlak membutuhkan faktor pendukung. Faktor tersebut meliputi iklim investasi yang kondusif, APBN yang sehat, birokrasi yang suportif, dan komitmen penyelenggaraan negara yang bebas dari korupsi.

Guna menopang seluruh visi tersebut, postur arsitektur APBN 2027 dirancang agar bersifat ekspansif namun tetap kolaboratif, terarah, dan terukur.

Proyeksi pendapatan negara ditargetkan sekitar Rp3.435 triliun bersama belanja negara mencapai Rp4.106 triliun, berakibat defisit tetap terjaga pada level aman 2,4 persen.

Melalui postur ini, pihak pemerintah optimistis pertumbuhan 6 persen dan inflasi yang terkendali di level 2,9 persen dapat tercapai.

Selain itu, pihak pemerintah menyiapkan jaring pengaman berupa perlindungan sosial sebesar Rp 539 triliun demi menjaga daya beli masyarakat sekitar.

Anggaran ketahanan pangan juga disiapkan senilai Rp 195 triliun demi stabilisasi harga, serta sektor kesehatan sebesar Rp 244 triliun demi mengonfirmasi masyarakat sekitar tetap sehat dan produktif.

“Mudah-mudahan bersama kebijakan ini tadi, harapannya pertumbuhan dapat tinggi, sejahtera makin cepat,” tukas dia.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article