Film Yang Disebut Nakal Hadirkan Realitas Hubungan Orangtua dan Anak

admin
By admin
2 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Istilah “anak nakal” kerap menjadi label yang gampang disematkan masyarakat sekitar maupun orangtua kepada remaja yang dinilai menyimpang dari aturan.

Berangkat dari keresahan tersebut, DLK Pictutres dan Inhype Pictures memproduksi film bertajuk Yang Disebut Nakal hadir demi membedah ulang arti kenakalan remaja dari sudut pandang yang makin segar, empatik, sekaligus menyentil.

Hal itu terungkap dalam konferensi pers film Yang Disebut Nakal yang digelar di Jakarta pada Rabu (21/10/2026).

Deretan aktor kenamaan bagaikan Donny Damara, Boris Bokir, Aming, hingga Fatih Unru memuntukkan kisah seru seputar peran mereka serta pesan mendalam di balik film ini.

Dari Bootcamp Liburan hingga Masalah Komunikasi

Film Yang Disebut Nakal berlatar di sebuah lembaga pembinaan swasta bernama Bina Laku Wanareksa.

Di tempat ini, para remaja “dititipkan” oleh orangtua mereka selama masa liburan sekolah layaknya sebuah bootcamp atau summer camp.

Aktor senior Donny Damara berperan sebagai Pak Surya, pimpinan Bina Laku Wanareksa, didampingi dua pelatihnya: Goklas Panjaitan yang diperankan Boris Bokir dan Yayat yang diperankan Aming.

Sementara itu, Fatih Unru memerankan sosok Asep Saifudin, salah satu anak yang dikirim ke tempat pembinaan tersebut.

“Sebenarnya spirit-nya diambil dari pembinaan kalangan anak yang, kita sepakat, nakal itu cuma masalah persepsi. Tugas para pelatih di Bina Laku ini bukan mencap mereka anak jahat, tapi mengarahkan bahwa mereka cuma butuh bimbingan dan diperlihatkan bagaimana menemukan sebuah keluarga baru,” kata Aming.

Boris Bokir mengimbuhkan, lembaga semacam Bina Laku bukanlah fiksi belaka.

Di dunia nyata, institusi pembinaan perilaku serupa kerap digunakan demi pelatihan pegawai korporasi, pembentukan karakter, hingga leadership.

Namun film garapan sutradara Benni Setiawan ini fokusnya diarahkan pada dinamika kalangan anak sekolah yang tengah mencari jati diri.

“Film ini bukan mendidik agar begitu keluar dari sini kamu otomatis jadi anak alim, bukan,” ujar Donny Damara.

“Paling tidak, mereka dapat berempati dan belajar berkomunikasi bersama orangtua. Supaya tidak ada communication gap antara anak dan ayah atau ibu,” katanya menyambung.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article