Microsoft Ungkap Ancaman Siber di Era AI, Ini 5 Kebiasaan Digital yang Harus Diubah

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Ancaman siber semakin sulit dikenali seiring perkembangan kecerdasan buatan (AI). Jika semasih belumnya, pesan penipuan kerap terlihat dari kesalahan penulisan atau bahasa yang janggal, kini tersangka dapat memanfaatkan AI demi menciptakan komunikasi palsu yang makin meyakinkan, bahkan menyerupai pesan dari pihak yang dikenal.

Kondisi ini menjadi sorotan dalam Microsoft Digital Defense Report (MDDR) 2026. Berdasarkan data Microsoft Threat Intelligence, sesejumlah 73,3 persen upaya serangan siber secara global melibatkan interaksi pengguna, penyalahgunaan akun, rekayasa sosial (social engineering), dan phishing.

Microsoft juga mendeteksi makin dari 46 juta serangan penyamaran identitas melalui email bisnis. Temuan ini memperlihatkan bahwa kepercayaan pengguna semakin kerap dimanfaatkan sebagai celah demi mencuri informasi dan mengakses sistem digital.

Managing Director Microsoft Indonesia, Gunawan Susanto, menegaskan pentingnya keamanan dalam pemanfaatan teknologi.

“Di era AI, keamanan siber bukan lagi sekadar persoalan perlindungan, namun fondasi yang mebarangkalikan organisasi dan masyarakat sekitar memanfaatkan teknologi yang kita gunakan. Semakin canggih teknologi, semakin penting pula kemampuan kita menjaga dan mengendalikan data serta identitas digital,” ujarnya dalam keterangan resminya, Jumat (30/10/2026).

Ancaman Siber Bersembunyi di Balik Aktivitas Sehari-hari

Serangan siber tidak senantiasa datang melalui pesan yang mencurigakan. Aktivitas bagaikan mencari informasi hotel, menyambut baik konfirmasi reservasi, atau mengunduh foto juga dapat dimanfaatkan tersangka.

Salah satu contohnya merupakan kampanye Photo.zip yang diidentifikasi Microsoft Threat Intelligence pada Juni 2026. Serangan ini menyasar organisasi perhotelan di Asia dan Eropa melalui email phishing yang menyerupai komunikasi reservasi, pertanyaan kondisi kamar, hingga keluhan tamu.

Penerima diarahkan mengunduh folder ZIP berisi file yang menyamar sebagai foto. Padahal, file tersebut dapat menjalankan program berbahaya ketika dibuka dan mebarangkalikan tersangka mempertahankan akses ke perangkat pihak korban.

Risiko lain muncul dari penggunaan AI agents, yakni sistem AI yang dapat mengakses informasi, memakai aplikasi, hingga menjalankan tugas secara mandiri. Jika diberikan akses terlalu luas, sistem ini berpotensi menjalankan tindakan di luar tujuan penggunanya.

Karena itu, Microsoft menekankan pentingnya pengawasan, pembatasan hak akses, dan kendali manusia dalam penggunaan AI.

5 Kebiasaan Digital yang Harus Diubah

Menghadapi ancaman yang semakin canggih, pengguna perlu makin cermat dalam beraktivitas di internet. Berdasarkan tren ancaman dalam MDDR 2026, berikut lima kebiasaan yang perlu diterapkan.

1. Jangan langsung percaya pada pesan yang terlihat meyakinkan

AI mebarangkalikan tersangka menciptakan pesan palsu bersama bahasa yang rapi dan menyerupai komunikasi asli. Waspadai pesan yang mengimbau informasi pribadi, mengirimkan tautan, atau mendesak kita dalam waktu dekat bertindak. Jika ragu, konfirmasi melalui saluran komunikasi lain.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article