Bentuk Bumi Semakin Membulat Akibat Perubahan Iklim, Ini Dampaknya Bagi Manusia

admin
By admin
8 Min Read
baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Selama ini, Bumi dikenal sebagai planet berbentuk bulat yang sedikit pepat di untukan kutub dan menggembung di sekitar garis khatulistiwa. Namun, penelitian terbaru membeberkan bahwa bentuk fisik Bumi ternyata terus merasakan perubahan dan perlahan semakin membulat.

Fenomena ini berkaitan bersama perubahan iklim, terutama mencairnya lapisan es di wilayah kutub akibat pemanasan global. Ketika es dalam jumlah besar mencair, tekanan terhadap kerak Bumi berkurang berakibat permukaan padat di wilayah kutub perlahan terangkat.

Di sisi lain, wilayah sekitar khatulistiwa merasakan perubahan bentuk berupa penyusutan tonjolan pada untukan padat Bumi. Kondisi tersebut menciptakan bentuk fisik Bumi semakin mendekati bola sempurna.

Temuan ini menjadi salah satu bukti bahwa perubahan iklim tidak cuma memengaruhi suhu, cuaca ekstrem, dan kenaikan permukaan laut, namun juga dapat mengubah karakteristik fisik planet.

Lantas, mengapa Bumi semakin membulat? Seberapa cepat perubahan tersebut terjadi dan apakah fenomena ini berbahaya untuk manusia?

Mengapa Bumi Semakin Membulat?

Bumi semakin membulat lantaran adanya perubahan distribusi massa di permukaannya, terutama akibat mencairnya lapisan es di Greenland dan Antarktika.

Pada dasarnya, Bumi bukanlah bola sempurna. Rotasi atau perputaran Bumi menyebabkan untukan tengahnya, khususnya wilayah khatulistiwa, sedikit menggembung. Sementara itu, untukan kutub terlihat makin pepat.

Bentuk ini dikenal sebagai oblate spheroid atau sferoid pepat.

Namun, ketika lapisan es di wilayah kutub mencair, beban yang selama ini menekan kerak Bumi berkurang. Akibatnya, daratan di bawah lapisan es tersebut perlahan merasakan pengangkatan.

Fenomena ini dikenal sebagai glacial isostatic adjustment (GIA), yakni proses penyesuaian kerak Bumi akibat perubahan beban es dalam jangka waktu panjang.

Proses tersebut dapat diibaratkan bagaikan spons yang kembali mengembang setelah tekanan di atasnya dilepaskan.

Sementara itu, air hasil pencairan es berpindah ke lautan dan mengubah distribusi massa di berbagai wilayah Bumi. Perubahan pada untukan kutub dan khatulistiwa inilah yang memengaruhi bentuk geometris Bumi.

Penelitian Terbaru Ungkap Bumi Semakin Membulat

Temuan mengenai perubahan bentuk Bumi ini dipublikasikan oleh Christoforos Kotsakis, profesor geodesi dari Aristotle University of Thessaloniki, Yunani.

Penelitian berjudul Mapping Global GNSS Vertical Velocities to Solid Earth Figure Change tersebut diterbitkan dalam jurnal Journal of Geophysical Research: Solid Earth pada 9 September 2026.

Dalam penelitian tersebut, Kotsakis mengembangkan metode demi menganalisis data pergerakan vertikal permukaan Bumi memakai sistem satelit navigasi global atau Global Navigation Satellite System (GNSS).

Teknologi ini mebarangkalikan peneliti mengukur perubahan posisi permukaan Bumi bersama tingkat ketelitian tinggi.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa wilayah kutub merasakan pengangkatan yang semakin cepat, sementara wilayah sekitar khatulistiwa merasakan penurunan pada untukan padatnya.

Kedua perubahan tersebut memperlihatkan bahwa bentuk geometris Bumi padat semakin tidak pepat dibandingkan semasih belumnya.

Penelitian ini menganalisis data GNSS dari kerangka referensi ITRF2014 dan ITRF2020 selama periode 1997 hingga 2015.

Seberapa Cepat Bentuk Bumi Berubah?

Perubahan bentuk Bumi memang amat kecil apabila dibandingkan bersama ukuran planet. Namun, pengukuran satelit memperlihatkan bahwa laju perubahan tersebut merasakan peningkatan.

Dalam penelitian Kotsakis, pengangkatan wilayah kutub meningkat dari sekitar 0,5 milimeter per tahun pada periode 1997–2000 menjadi hampir 1 milimeter per tahun pada periode 2011–2015.

Pada saat yang sama, wilayah khatulistiwa merasakan penurunan permukaan padat bersama besaran yang sebanding. Berikut gambaran hasil pengukuran tersebut:

1997–2000 Sekitar 0,5 mm per tahun
2011–2015 Hampir 1 mm per tahun

Penelitian tersebut juga memperkirakan percepatan perubahan bentuk Bumi padat sekitar 0,4 milimeter per tahun per dekade.

Artinya, perubahan bentuk Bumi semakin terlihat dalam data pengukuran geodesi, meskipun ukurannya masih amat kecil dan tidak dapat diamati secara langsung oleh manusia.

Apa Hubungan Pencairan Es Kutub bersama Bentuk Bumi?

Pencairan es kutub memiliki hubungan erat bersama perubahan bentuk Bumi lantaran lapisan es menyimpan massa dalam jumlah amat besar. Ketika es mencair, ada dua proses utama yang berlangsung.

Pertama, kerak Bumi di wilayah kutub terangkat. Lapisan es yang amat tebal selama ribuan tahun menyerahkan tekanan besar terhadap daratan di bawahnya. Ketika es mencair, tekanan tersebut berkurang berakibat kerak Bumi perlahan kembali naik.

Proses ini tidak berlangsung seketika lantaran untukan dalam Bumi memiliki sifat yang dapat berubah bentuk secara perlahan dalam jangka waktu panjang.

Kedua, air hasil pencairan es berpindah ke lautan. Air dari lapisan es yang mencair masuk ke samudra dan menyebabkan distribusi massa air berubah.

Seuntukan massa air tersebut berpindah menuju wilayah lintang yang makin rendah, termasuk sekitar khatulistiwa. Penambahan beban air laut dapat menyebabkan dasar laut merasakan penurunan dan memengaruhi bentuk Bumi secara keseluruhan.

Kedua proses tersebut berlangsung bersamaan, namun menyerahkan dampak yang berbeda terhadap bentuk geometris Bumi padat dan distribusi massa planet.

Mengapa Bumi Bisa Semakin Bulat Sekaligus Semakin Pepat?

Hal menarik dari penelitian ini merupakan adanya perbedaan hasil ketika ilmuwan mengukur untukan padat Bumi dan keseluruhan sistem Bumi yang juga mencakup lautan.

Jika cuma memperhitungkan untukan padat Bumi, pengangkatan wilayah kutub dan penurunan wilayah khatulistiwa menciptakan planet semakin mendekati bentuk bola sempurna.

Namun, apabila distribusi massa air laut ikut diperhitungkan melalui pengukuran medan gravitasi, hasilnya dapat memperlihatkan peningkatan kepipihan.

Hal tersebut terjadi lantaran air hasil pencairan es berpindah dari wilayah kutub menuju lintang yang makin rendah.

Penambahan massa di sekitar khatulistiwa memengaruhi medan gravitasi dan menciptakan geoid semakin pepat.

Geoid sendiri merupakan model permukaan hipotetis yang menggambarkan bentuk medan gravitasi Bumi dan mendekati permukaan laut rata-rata.

Dengan demikian, istilah Bumi semakin membulat tidak berarti seluruh planet, termasuk lautan dan medan gravitasinya, merasakan perubahan ke arah yang sama.

Perbedaan ini justru memperlihatkan bahwa bentuk fisik Bumi dan distribusi massanya merupakan dua hal yang saling berkaitan, namun tidak senantiasa memperlihatkan perubahan identik.

Bagaimana Ilmuwan Mengukur Perubahan Bentuk Bumi?

Para ilmuwan memakai teknologi satelit dan pengukuran geodesi demi mengetahui perubahan bentuk Bumi. Salah satu metode yang digunakan dalam penelitian Kotsakis merupakan Global Navigation Satellite System (GNSS).

GNSS merupakan sistem navigasi satelit yang mencakup berbagai konstelasi satelit, termasuk GPS. Teknologi ini dapat menolong mengukur perubahan posisi permukaan Bumi secara presisi.

Selain GNSS, terdapat sejumlah teknologi lain yang digunakan demi memantau perubahan planet, antara lain:

Apakah Bumi yang Semakin Membulat Berbahaya untuk Manusia?

Perubahan bentuk Bumi yang terukur dalam penelitian tersebut tidak akan menciptakan manusia merasakan planet berubah bentuk secara langsung.

Laju perubahan sekitar 1 milimeter per tahun amat kecil apabila dibandingkan bersama diameter Bumi yang mencapai sekitar 12.756 kilometer di wilayah khatulistiwa.

Namun, fenomena ini tetap penting demi dipantau lantaran memperlihatkan bagaimana sistem Bumi merespons perubahan iklim. Beberapa hal yang dapat dipelajari dari perubahan tersebut meliputi:

Karena itu, perubahan bentuk Bumi bukanlah ancaman langsung yang dapat dirasakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Akan namun, fenomena ini menjadi indikator penting demi memahami dampak perubahan iklim dalam jangka panjang.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article