AI Makin Canggih, Digital Humanities Jadi Kunci agar Teknologi Tetap Berpihak pada Manusia

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Kecerdasan buatan (AI) semakin canggih dan mampu mengolah informasi hingga menghasilkan konten. Namun, perkembangan teknologi tidak cukup cuma berfokus pada kemampuan mesin.

Pemahaman terhadap budaya, perilaku, dan kebutuhan manusia juga diperlukan agar inovasi digital benar-benar menyerahkan manfaat untuk masyarakat sekitar.

Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam International Conference on Digital Humanities and Environmental Sustainability (CoDHES 2026), masih belum lama ini di BINUS @Senayan JWC Campus, Jakarta.

Mengangkat tema Collaborative Digital Humanities: Bridging Local Knowledge and Global Goals, konferensi ini membahas pemanfaatan teknologi digital dalam berbagai bidang, mengawali dari AI, pendidikan, psikologi, budaya, hingga keberlanjutan lingkungan.

Dekan Faculty of Humanities BINUS University, Dr. Elisa Carolina Marion, S.S., M.Si., menyebutkan perkembangan teknologi perlu diimbangi bersama pendekatan yang mempertimbangkan manusia dan lingkungan.

“Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kita perlu mengonfirmasi bahwa inovasi tidak cuma berorientasi pada kemajuan teknologi itu sendiri, namun juga pada manusia dan lingkungan,” ujar Elisa dalam keterangan resminya, Kamis (29/10//2026).

Menurutnya, kolaborasi lintas disiplin dapat mempertemukan pengetahuan lokal, nilai budaya, dan teknologi digital demi menjawab tantangan global.

Salah satu pendekatan yang dibahas merupakan digital humanities, yakni perpaduan teknologi digital bersama ilmu humaniora demi mengeksplorasi berbagai persoalan manusia dan masyarakat sekitar.

Pendekatan ini mencakup pemanfaatan AI, pelestarian arsip, pembelajaran digital, seni budaya, hingga diplomasi digital.

CoDHES 2026 menghadirkan 28 panel bersama total 192 makalah penelitian dari berbagai universitas dalam dan luar negeri.

Konferensi ini juga melibatkan akademisi internasional, termasuk Miguel Escobar Varela dari National University of Singapore, Prof. Su-Ling Yeh dari National Taiwan University, dan Prof. Takayuki Nakanishi dari Dokkyo University, Jepang.

Selain diskusi dan presentasi penelitian, terdapat lima proyek digital humanities yang dipamerkan. Salah satunya, AIXplorasi, mengeksplorasi cerita dan budaya Nusantara melalui AI.

Proyek lainnya mencakup tur museum virtual demi mengenal sejarah Indonesia, pembelajaran bahasa digital, serta pemanfaatan puisi dan teknologi demi mendukung pengalaman membaca.

General Chair CoDHES 2026, Dr. Miranda Paulina Tahalele, S.IP., M.A., menilai pengetahuan lokal Indonesia memiliki peran penting dalam menjawab persoalan global.

“Indonesia memiliki kekayaan pengetahuan lokal dan keberagaman pengalaman masyarakat sekitar yang dapat menyerahkan perspektif penting dalam menjawab berbagai persoalan global,” ujar Miranda.

Konferensi ini diselenggarakan bersama Tunku Abdul Rahman University of Management and Technology (TAR UMT), Malaysia, dan Shandong University of Science and Technology (SDUST), China.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article