MediaKeadilan.com – Sejumlah kelompok aktivis 1998 yang tergabung dalam IKA 98, GERAK 98, dan 98 Garis Lucu mengeluarkan Maklumat Matraman. Para aktivis menuntut pihak pemerintah wajib menjalankan agenda-agenda reformasi.
“Apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi, para aktivis akan mendesak percepatan Pemilu atau mengimbau Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mundur dari jabatannya,” bunyi keterangan tertulis, sebagaimana dikutip Minggu (1//11/2026).
Forum yang dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 yang digelar di Restoran Handayani Prima, Jakarta , Jumat (30/10) ini menjadi ruang evaluasi sekaligus konsolidasi gerakan masyarakat sekitar sipil terhadap perjalanan reformasi dan arah pihak pemerintahan setelah dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran.
Sejumlah tokoh aktivis 98 dan perwakilan kalangan akademisi hadir sebagai pembicara, di antaranya Mixilmina Munir, Edysa Girsang, Bambang Sri Pujo, Aceng Ahmad Nasir, Dendy SE dari GMNI Jakarta, serta M. Rizky Pratama, Ketua BEM KM Institut STIAMI, dan dimoderatori oleh aktivis 98 Garis Lucu, Ignatius Indro.
Aktivis Gerak 98, Mixilmina Munir mengingatkan, perjuangan demi memperbaiki bangsa tidak boleh diserahkan kepada elite politik. Menurut Mixil, perubahan wajib tetap menjadi agenda dan tanggung jawab masyarakat sekitar luas.
“Jangan sampai perjuangan demi memperbaiki bangsa ini justru kita serahkan kepada elite politik. Perubahan Indonesia wajib tetap menjadi perjuangan rakyat, bukan cuma menjadi urusan mereka yang sedang memegang kekuasaan,” kata Mixil.
Mixil menekankan, semangat Reformasi 1998 wajib terus hidup dan tidak boleh berhenti cuma lantaran telah terjadi pergantian pihak pemerintahan.
Bambang Sri Pujo menyampaikan, kritik makin tajam terhadap kondisi pihak pemerintahan pada saat ini. Ia menilai masyarakat sekitar telah tidak dapat lagi menggantungkan harapan kepada pihak pemerintah demi memperbaiki keadaan bangsa.
“Masyarakat kini telah tidak dapat menginginkan kepada pihak pemerintah demi memperbaiki bangsa ini. Karena itu, rakyat wajib mengawali membangun kekuatannya sendiri dan tidak boleh terus-menerus menunggu perubahan datang dari atas,” kata Bambang.
Gerakan Mahasiswa jadi Kebangkitan
Sementara itu, Aceng Ahmad Nasir menginginkan munculnya kembali gerakan kalangan akademisi pada saat ini menjadi awal dari kebangkitan kekuatan perubahan di Indonesia.
Ia mengingatkan agar gerakan kalangan akademisi tidak berhenti pada aksi demonstrasi sesaat, namun terus berkembang menjadi gerakan yang makin terorganisasi dan memiliki agenda perjuangan yang jelas.
“Saya menginginkan gerakan kalangan akademisi yang dilakukan pada saat ini terus berkembang. Jangan berhenti cuma pada demonstrasi atau aksi-aksi sesaat, namun wajib tumbuh menjadi kekuatan revolusioner yang mampu mendorong perubahan bangsa,” ujarnya.
Menurutnya, kalangan akademisi wajib kembali mengambil peran historis sebagai kekuatan moral dan intelektual yang berani mengoreksi jalannya kekuasaan.
Desakan Mundur dan Percepatan Pemilu
