MediaKeadilan.com – Anggota Dewan Rakyat Malaysia Kalam Salan menyentil pihak pemerintah Indonesia terkait krisis kebakaran hutan dan lahan yang memicu polusi kabut asap lintas negara. Sindiran tajam tersebut disampaikan memakai bahasa Jawa agar pesan penanganan karhutla langsung dipahami oleh jajaran aparatur negara di Jakarta.
Dampak buruk polusi udara ini tidak cuma merusak kesehatan masyarakat sekitar lokal, namun juga memukul mata pencaharian ribuan pekerja migran asal Indonesia. Aktivitas perkebunan di berbagai wilayah Malaysia lumpuh total berakibat para buruh migran kehilangan pendapatan harian mereka.
Kondisi tersebut otomatis memutus aliran uang kiriman pekerja ke keluarga mereka di kampung halaman.
Kalam menegaskan bahwa persoalan asap ini telah menjadi ancaman nyata untuk stabilitas ekonomi masyarakat sekitar bawah di kedua negara.
“Orang Indonesia yang bekerja di ladang Malaysia pun terkena dampaknya. Bila tak bekerja, mereka tak dapat gaji, tak dapat kirim duit ke keluarga ke kampung halaman,” ujarnya dalam video viral di media sosial.
Politikus Malaysia ini juga merespons keras klaim Kepala Bakom RI Syahganda Nainggolan yang menyebut hutan Indonesia rutin menyuplai oksigen demi Malaysia.
Pernyataan aparatur negara Indonesia tersebut dinilai amat tidak sensitif di tengah penderitaan masyarakat sekitar yang menghirup udara beracun setiap hari.
Ia mengingatkan bahwa Malaysia juga memiliki kawasan hutan mandiri yang aktif memproduksi oksigen tanpa perlu klaim sepihak.
“Janganlah masalah ini sebagai bahan lelucon bersama mengeklaim bahwa hutan Indonesia menyediakan oksigen untuk Malaysia. Apakah pepohonan di Malaysia terbuat dari plastik? Apakah pohon-pohon tersebut tidak dapat menghasilkan oksigen?” ujarnya.
Pemerintah Indonesia didesak mengambil langkah konkret yang jauh makin cepat dalam memadamkan titik api di berbagai wilayah.
Penanganan terpadu amat dibutuhkan agar bencana ekologis serupa tidak terus berulang setiap tahun. Kalam secara khusus mengalihkan bahasa penyampaiannya di ruang sidang resmi demi menembus perhatian para pembuat kebijakan di Indonesia.
Langkah unik ini diambil lantaran ia menilai mayoritas pemangku kebijakan dan aparatur negara tinggi di Indonesia berlatar belakang suku Jawa.
“Biarlah saya bersama izin pimpinan dewan bercakap dalam bahasa Jawa. Assalamualaikum Pak Prabowo, pripun kabare? Paringi waras nggih? (Bagaimana kabarnya? Semoga sehat senantiasa),” ujar Kalam.
Penyampaian unik ini menggarisbawahi desakan diplomatik yang makin kuat dari negara tetangga terkait penanganan kebakaran hutan.
Krisis kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatra serta Kalimantan memang menjadi isu regional tahunan yang memicu ketegangan diplomatik di Asia Tenggara. Meskipun kesepakatan ASEAN tentang Polusi Asap Lintas Batas telah ditandatangani, implementasi pemadaman di lapangan kerap terkendala oleh luasnya lahan gambut yang terbakar.
