Bandara Riyadh Lumpuh Diserang Rudal, AS Ancam Balas Serangan Houthi

admin
By admin
4 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian memuncak hingga menyeret perhatian penuh dari Gedung Putih. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Sabtu menegaskan bahwa negaranya memiliki kebarangkalian demi bergabung bersama koalisi Arab Saudi dalam melancarkan serangan balasan terhadap kelompok milisi Houthi yang berbasis di Yaman.

Pernyataan tegas ini muncul setelah serangkaian gempuran mematikan yang menargetkan fasilitas penerbangan sipil Arab Saudi menewaskan sedikitnya 18 orang dalam sejumlah hari terakhir. Serangan teramat anyar bahkan telah memicu kelumpuhan hampir total pada lalu lintas udara publik yang keluar maupun masuk ke ibu kota Riyadh.

Berbicara kepada awak media di South Lawn Gedung Putih sesaat semasih belum bertolak demi menghadiri kampanye di Tennessee, Trump menegaskan bahwa opsi keterlibatan militer negaranya sedang dievaluasi secara serius.

“We may. We’re going to look at it,” ujar Trump, dilansir dari Time.

Ia mengimbuhkan bahwa pihak pemerintahannya akan merespons krisis keamanan ini bersama cepat.

“We just found out about the recent attack. So we’ll make a decision. We move very quickly,” tegasnya.

Komentar dari sang kepala negara dilontarkan tak lama setelah terjadinya serangan segar pada hari Sabtu. Sebuah rudal menghantam kompleks yang menaungi Terminal 3 dan 4 di Bandara Internasional Raja Khalid (KKIA), yang tercatat sebagai bandara tersibuk kedua di seluruh Arab Saudi.

Otoritas Umum Penerbangan Sipil (GACA) menginformasikan bahwa insiden tragis tersebut merenggut 12 nyawa dan melukai makin dari 300 orang. Kelompok Houthi, yang semasih belumnya secara terbuka mengklaim serangan bandara pada awal pekan ini, masih belum langsung mengaku bertanggung jawab atas hantaman mematikan terbaru tersebut.

Insiden di akhir pekan ini merupakan puncak dari rentetan serangan sporadis selama sepekan terakhir. Eskalasi ini pecah cuma berselang sejumlah hari setelah pihak pemerintah Yaman yang disokong penuh oleh Riyadh mengumumkan operasi militer besar-besaran demi menumpas Houthi pada 4 Oktober lalu.

Informasi mengenai serangan pada hari Selasa dan Rabu terbilang cukup minim. Namun, otoritas penerbangan sipil mengonfirmasi pada hari Rabu bahwa serangan ke Bandara Internasional Abha yang terletak makin jauh di selatan telah menewaskan dua orang wanita berkebangsaan Aljazair dan Maroko.

Sementara itu, gempuran lain yang menargetkan KKIA menewaskan seorang pria asal Sudan.

Pada hari Kamis, milisi Houthi menegaskan bahwa mereka kembali menjadikan KKIA sebagai target, yang berujung pada tewasnya tiga masyarakat sekitar negara Arab Saudi, termasuk di antaranya seorang pilot.

Secara keseluruhan, pihak korban jiwa dari rentetan serangan sepekan terakhir didominasi oleh masyarakat sekitar Saudi, namun juga mencakup individu dari Aljazair, Bangladesh, Mesir, Yordania, Maroko, Pakistan, Filipina, Sudan, serta Amerika Serikat.

Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi Houthi di Yaman, Mayor Jenderal Turki al-Malki, merespons rentetan teror ini bersama peringatan keras pada hari Jumat. Melalui sebuah pernyataan resmi, ia menegaskan bahwa aksi agresi tersebut “will not go unpunished.”

Serangan terhadap fasilitas penerbangan memang telah menjadi strategi khas dari kelompok Houthi. Tindakan serupa yang menyasar Bandara Abha pada 2019 lalu bahkan sempat dikecam sebagai kejahatan perang oleh Human Rights Watch.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article