Biaya Hidup Mahal, Ibas Ingatkan Tantangan Ekonomi Kelas Menengah RI

admin
By admin
2 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Tak sekedar bercanda Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengingatkan generasi muda Indonesia atau kelas menengah RI agar bersiap menyikapi tantangan ekonomi, mengawali dari persaingan kerja, mahalnya biaya hidup, hingga tuntutan kemandirian finansial.

Menurut Ibas, tantangan generasi muda bukan sekadar memperoleh pekerjaan, namun juga mengonfirmasi penghasilan yang diperoleh cukup demi memenuhi kebutuhan hidup, mengembangkan diri, dan merencanakan masa depan.

Pesan tersebut disampaikan Ibas saat berdialog bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) di Australian National University (ANU), Canberra, Jumat (16/10/2026).

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI itu menilai pendidikan tinggi perlu terhubung bersama kebutuhan industri agar lulusan memiliki keterampilan yang relevan bersama perkembangan ekonomi dan dunia kerja.

Kolaborasi pihak pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan juga dinilai penting demi memperluas kesempatan kerja sekaligus meningkatkan kualitas pekerjaan untuk generasi muda.

Selain itu, Ibas menekankan pentingnya keberlanjutan beasiswa agar kalangan akademisi berprestasi dari berbagai latar belakang ekonomi tetap memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas.

Menurutnya, pendidikan dan pengalaman internasional wajib menjadi modal demi meningkatkan daya saing, memperluas jejaring, serta menghadirkan solusi atas persoalan Indonesia, termasuk pengangguran dan kemiskinan.

Ibas juga mengajak kalangan akademisi demi bersikap adaptif, disiplin, dan gigih dalam menyikapi ketidaktentuan karier. Ia menegaskan, lulusan luar negeri tidak wajib kembali ke satu jalur profesi tertentu, namun dapat berkontribusi melalui berbagai bidang, mengawali dari profesional, akademisi, hingga wirausaha.

Di sisi lain, Ibas mendorong kalangan akademisi tetap kritis terhadap kebijakan publik dan aktif menyampaikan gagasan berbasis riset. Aspirasi masyarakat sekitar, menurutnya, perlu menjadi masukan dalam penyusunan kebijakan, termasuk terkait anggaran pendidikan, penciptaan lapangan kerja, dan kesejahteraan.

“To lead is to listen. Seorang pemimpin wajib mau mendengar lantaran dari sana kita dapat memahami harapan, kebutuhan, dan pemikiran masyarakat sekitar,” ujarnya.

Ibas menginginkan pengalaman akademik dan jejaring internasional kalangan akademisi Indonesia di Australia dapat dimanfaatkan demi memperkuat daya saing sumber daya manusia sekaligus mendorong pembangunan ekonomi nasional.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article