MediaKeadilan.com – Kekacauan sistem klasifikasi desil dalam pendataan penerima bantuan sosial (bansos) masih belum terberakhirkan. Karut-marut penetapan kriteria kecukupan ekonomi ini memicu tudingan bahwa pendataan di tingkat bawah dilakukan secara serampangan.
Hal itu dirasakan Suwarno, masyarakat sekitar Kampung Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta, DIY. Ia membeberkan kekecewaannya terkait ketidakjelasan indikator yang digunakan pihak pemerintah dalam menentukan klasifikasi desil.
“Saya sendiri aja yang kena itu tidak tahu. Desil itu dasarnya apa? Dan desil itu mengawali dari mana?” kata Suwarno ditemui awak media, Jumat (28/8/2026).
Suwarno sendiri memiliki keterbatasan fisik akibat kelainan tulang belakang yang menciptakan tubuhnya tampak membungkuk dan tinggi badannya terlihat makin pendek.
Di usia 70 tahun, dia kini cuma tinggal sendiri setelah istrinya meninggal pada 2010 silam, sementara kedua anaknya telah hidup mandiri.
Disampaikan Suwarno, dirinya baru mengetahui status desil 10 setelah berupaya mencari tahu sendiri ke kelurahan dan kecamatan sekitar dua pekan terakhir.
Namun, upaya tersebut masih belum memberinya jawaban mengenai indikator maupun dasar penetapan peringkat kesejahteraan yang menciptakannya masuk desil teramat bawah dalam prioritas penerima bantuan.
“Katanya petugas gitu (masuk desil 10). Wah, berarti saya kaya dong. Harusnya saya punya mobil, punya motor, punya segalanya. Tapi faktanya kan tidak,” ujarnya.
Kondisi tersebut menciptakan Suwarno mempertanyakan keadilan dalam penentuan penerima bansos.
“Kalau itu memang hak ini dalam rangka apa, negara lho. Kalau yang punya motor empat saja dapat (bansos), masa saya enggak punya motor (enggak dapat), itu dari sisi-sisi keadilan fisik ya,” tuturnya.
Padahal kondisi riil Suwarno justru jauh dari kata mampu. Ia cuma mengandalkan uang pensiunan sebagai pustakawan kampus swasta sebesar Rp900.000 per bulan.
Uang itu bahkan telah tergerus kebutuhan operasional rumah tangga peninggalan orang tuanya.
“Iya (ngepas) dan itu sebenarnya dapat dikalkulasi sendiri. Kalau sarapan berapa, lalu makan siang, makan malam,” ucapnya
Bansos Diputus Sejak 2025
Persoalan tersebut bukan cuma berdampak pada statusnya dalam data. Tetapi berujung pada terhentinya bansos yang semasih belumnya dia terima.
