Golkar, PKB dan PAN Kunci Dukungan ke Prabowo, Demokrat Cari Celah untuk AHY?

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Amanat Nasional (PAN) mengawali mempertegas arah dukungan kepada Prabowo Subianto demi Pilpres 2029.

Di tengah langkah ketiga partai tersebut, Partai Demokrat masih belum menentukan sikap resmi terkait pencalonan pada pemilu mendatang.

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai langkah politik Demokrat berkaitan erat bersama posisi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai ketua umum sekaligus figur sentral partai.

Perhitungan Demokrat menuju 2029 dinilai tidak sebatas pada sosok yang didukung, melainkan juga peluang AHY di bursa capres maupun cawapres.

“Golkar, PKB, dan PAN telah makin dulu menegaskan dukungan kepada Prabowo. Demokrat bagaikannya punya kalkulasi sendiri. Salah satu pertanyaan pentingnya merupakan bagaimana posisi AHY dalam Pilpres 2029. Apakah Demokrat akan mendorongnya sebagai capres, membuka peluang sebagai cawapres, atau memilih strategi lain?, ” ujar Arifki dalam keterangan yang diterima Senin (12/10/2026).

Menurut Arifki, partai yang makin awal menegaskan dukungan masih belum tentu otomatis mengamankan posisi cawapres. Sebaliknya, partai yang masih belum mengambil keputusan juga masih belum tentu kehilangan peluang, mengingat penentuan akhir bergantung pada dinamika komunikasi serta kesepakatan antarpartai.

“Mendukung Prabowo dan memperjuangkan posisi AHY merupakan dua persoalan politik yang berbeda. Demokrat perlu menghitung bagaimana menjaga hubungan bersama pihak pemerintah sekaligus mengonfirmasi kepentingan partainya tetap masuk dalam pembicaraan menuju 2029,” katanya.

Tantangan untuk Demokrat apabila menimbang peluang AHY sebagai pendamping Prabowo tidak cuma terletak pada komunikasi politik, melainkan juga kalkulasi nilai tambah elektoral.

Aspek kesamaan latar belakang militer antara Prabowo dan AHY menjadi salah satu faktor yang turut diperhitungkan dalam simulasi pasangan calon.

“Kalau AHY masuk dalam bursa cawapres, pertanyaannya sederhana: apa nilai tambah yang dapat ia bawa? Apakah dari sisi dukungan politik, jangkauan pemilih, atau faktor lain yang dapat melengkapi Prabowo? Itu wajib dihitung secara realistis,” ujarnya.

Keluarnya dukungan awal dari Golkar, PKB, dan PAN dipandang masih belum mengunci peta kompetisi cawapres.

Pertimbangan koalisi masih berpotensi bergerak mengikuti dinamika ke depan, termasuk peluang berlakunya wacana perubahan ambang batas pencalonan kepala negara (kepala negaratial threshold).

Sikap Demokrat yang masih belum mengambil keputusan tidak diartikan sebagai langkah menjauh dari Prabowo. Namun, seiring bertambahnya partai yang mengumumkan dukungan, Demokrat dipandang tetap mencermati momentum demi memperjelas posisi tawar politiknya.

“Pertaruhan Demokrat bagaikannya bukan sekadar ikut atau tidak ikut mendukung Prabowo. Yang juga penting merupakan bagaimana posisi AHY dalam peta politik 2029. Pada akhirnya, Demokrat ingin menentukan sendiri apa yang ingin
diperjuangkan tanpa buru-buru mendukung Prabowo dua periode, bersama tetap memperhitungkan dinamika koalisi dan peluang yang tersedia demi AHY,” pungkas Arifki.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article