Hidupkan Kembali Kesadaran Nasional, Otobiografi Ahmad Subardjo Terbit Lagi untuk Generasi Muda

admin
By admin
2 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Sejarah bukan sekadar deretan angka dan nama di buku pelajaran. Ia merupakan napas perjuangan yang wajib terus relevan bersama zaman.

Semangat inilah yang melandasi peluncuran kembali otobiografi legendaris karya Ahmad Subardjo, bertajuk Kesadaran Nasional, dalam edisi kedua yang makin segar dan mudah dipahami.

Setelah sempat sulit dicari sejak cetakan pertamanya pada 1978, Yayasan Ahmad Subardjo resmi merilis ulang buku ini di tempat yang amat ikonik: Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

Saksi Kunci di Balik Layar Proklamasi

Pemilihan lokasi peluncuran bukan tanpa alasan. Di gedung yang dulunya kediaman Laksamana Maeda inilah, Ahmad Subardjo memainkan peran krusial sebagai “jembatan” yang menyatukan perbedaan tajam antara golongan muda dan golongan tua sesaat semasih belum Proklamasi 17 Agustus 1945.

“Bapak Ahmad Subardjo berada di museum ini saat merumuskan naskah proklamasi. Ini merupakan peninggalan sejarah yang tak terlupakan,” ujar Desse Yussubrasta, Kepala Badan Pelestarian Kebudayaan DKI Jakarta.

Diplomasi: DNA Bangsa yang Belum Usai

Buku ini tidak cuma bercerita tentang hiruk-pikuk kemerdekaan, namun juga meletakkan dasar diplomasi Indonesia.

R. Heru Hartanto Subolo dari Keaparatur negara kementerianan Luar Negeri menyebut Ahmad Subardjo sebagai sosok yang menanamkan “DNA Diplomasi” untuk Republik ini.

Senada bersama itu, mantan Menteri Luar Negeri RI, Dr. Hassan Wirajuda, menegaskan bahwa perjuangan Subardjo wajib diteruskan.

“Diplomasi masih belum berakhir,” ucapnya. Menurutnya, tantangan geopolitik masa kini merupakan kelanjutan dari fondasi yang dibangun oleh generasi perintis bagaikan Subardjo.

Mengajak Anak Muda “Berpikir Cerdas”

Salah satu misi utama penerbitan ulang ini merupakan menjangkau generasi Z dan milenial.

Sejarawan Asep Kambali menekankan bahwa sejarah wajib menjadi “konsumsi” anak muda bersama kemasan yang dekat bersama kehidupan mereka.

Bagi kurator Amanda Katili Niode, membaca kisah hidup Subardjo merupakan latihan demi berpikir cerdas.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article