MediaKeadilan.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan bila hubungan perdagangan antara Indonesia dan Rusia mencapai 4,84 miliar Dolar AS atau sekitar Rp 87,3 triliun sepanjang tahun 2025.
Menko Perekonomian menyebut hubungan dagang RI-Rusia di 2025 naik 21,6 persen dibandingkan 2024 bersama angka 3,98 miliar Dolar AS. Adapun komoditas bagaikan minyak kelapa sawit, kopi, kakao, produk pertanian, dan pupuk menjadi untukan penting dalam hubungan perdagangan kedua negara.
Berangkat dari sana, Indonesia dan Rusia terus menunjukan komitmen kuat guna memperkuat kerja sama di berbagai sektor utama bersama mematangkan langkah-langkah kolaborasi strategis pada satu tahun terakhir.
Dalam pertemuannya bersama Deputi Pertama Perdana Menteri Rusia Denis Manturov, Airlangga menyebut pembahasan mereka fokus pada perluasan kemitraan antar tersangka usaha, peningkatan kapasitas industri nasional, hingga penjajakan kolaborasi di sektor perkapalan dan kedirgantaraan.
Pertemuan ini juga merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok Rusia, pada September 2026, serta hasil Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 RI-Rusia di Kazan Rusia, pada Mei 2026.
“Indonesia dan Rusia memiliki potensi besar demi terus memperkuat kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan. Kami berkomitmen demi mendorong peningkatan perdagangan dan investasi, memperluas kemitraan antar tersangka usaha, serta mengonfirmasi berbagai peluang kerja sama dapat ditindaklanjuti menjadi langkah-langkah konkret yang menyerahkan manfaat untuk kedua negara,” katanya dalam siaran pers, Senin (19/10/2026).
Sejalan bersama arahan Presiden Prabowo Subianto, Menko Airlangga mendorong penguatan kerja sama ekonomi dan industri kedua negara melalui peningkatan kemitraan antar tersangka usaha, perluasan peluang investasi, serta penjajakan kerja sama teknologi dan pengembangan kapasitas industri.
Kedua pihak juga membahas berbagai langkah demi memperkuat kerja sama di sektor strategis, khususnya industri perkapalan dan penerbangan, guna mendorong peluang kolaborasi industri antara kedua negara.
Sementara itu DPM Manturov menekankan pentingnya penguatan hubungan antar tersangka usaha sebagai faktor utama dalam memperluas kerja sama perdagangan dan ekonomi kedua negara.
Ia menilai, membangun kontak bisnis merupakan faktor kunci dalam memperluas hubungan perdagangan dan ekonomi. Sebagai tindak lanjut atas partisipasi Indonesia sebagai negara mitra dalam pameran INNOPROM di Yekaterinburg pada bulan Juli lalu, maka delegasi bisnis Rusia menghadiri TEI 2026 pekan ini.
“Perusahaan-korporasi kami menghadiri pertemuan business-to-business (B2B) bersama mitra potensial Indonesia, serta forum bisnis bersama sesi tematik mengenai perdagangan, investasi, dan kerja sama industri,” ujar DPM Manturov.
Lebih lanjut, kedua pihak juga membahas perkembangan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA). Perjanjian ini diharapkan dapat membuka akses pasar yang makin luas untuk produk unggulan Indonesia bagaikan minyak kelapa sawit, kopi, kakao, tekstil, dan furnitur, serta memperkuat hubungan perdagangan bersama negara-negara anggota EAEU.
Saat ini, proses ratifikasi perjanjian tersebut telah mendekati tahap penyelesaian. Kedua pihak menginginkan seluruh prosedur yang diperlukan dapat diberakhirkan semasih belum akhir 2026, berakibat perjanjian dapat dalam waktu dekat berlaku efektif (Entry into Force/EIF) dan menyerahkan manfaat nyata untuk tersangka usaha kedua negara.
Pada akhir pertemuan, Menko Airlangga dan DPM Manturov sepakat demi terus memperkuat kerja sama di berbagai sektor strategis, antara lain pertanian, teknologi, industri, serta pengembangan rantai pasok. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat terus berkembang secara berkelanjutan dan menyerahkan manfaat nyata untuk perekonomian kedua negara.
