IHSG-Rupiah Anjlok, Airlangga Tuding MSCI Mainkan Sentimen

admin
By admin
4 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengomentari soal anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga Rupiah buntut laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada hari ini.

Menko Perekonomian justru mempertanyakan soal laporan MSCI yang membuka konsultasi demi mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia. Padahal sejumlah hari semasih belumnya ia telah bertemu petinggi MSCI di Thailand.

“Kemarin di Thailand kok enggak ngomong yang ini? Padahal yang pada hari semasih belumnya itu seminggu juga masih belum. Ya tentu kita lihat saja tapi kita tidak boleh suudzon,” kata Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Ia juga akan membahas efek laporan MSCI yang pada saat ini berdampak pada pelemahan IHSG dan Rupiah bersama anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada hari ini di Kantor Kemenko Perekonomian.

Adapun KSSK sendiri beranggotakan Keaparatur negara kementerianan Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

“Ya itu kan namanya nanti kita bahas,” lanjut dia.

Airlangga mengklaim bila pada saat ini Indonesia justru memiliki fundamental ekonomi yang kuat. Keluarnya laporan MSCI disebutnya sebagai penilaian dari faktor sentimental.

“Kemarin kita telah sampaikan bahwa sebetulnya kita punya fundamental ekonomi kuat. Tetapi yang dimainkan kan kini faktor sentimental,” tuding dia.

Airlangga juga mengharapkan para investor saham justru memahami mana laporan lembaga pemeringkat yang berdasarkan faktor sentimental, dan mana yang berbasis fundamental.

“Dan mana yang diberikan oleh rating agency yang lain. Kenapa rating agency yang lain tidak mempersoalkan hal ini? Dan kenapa MSCI secara sistematik senantiasa membuka atau menciptakan deadline? Nah apalagi pada hari semasih belumnya yang ketemu di Bangkok kan pimpinannya, bukan analisnya.” katanya heran.

Sementara itu Indeks Harga Saham Gabungan(IHSG) berakhir terus tertekan hingga akhir persen di Perdagangan Sesi I, Jumat, 16 Oktober 2026. IHSG merosot 630,77 poin atau 10,75 persen ke level 5.223.

Berdasarkan data Phintraco Sekuritas, IHSG dibuka di level 5.394. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.405 dan terendah 5.193 sepanjang perdagangan sesi pertama.

Di tengah pelemahan tersebut, nilai transaksi saham tercatat mencapai Rp17,30 triliun. Sementara itu, volume transaksi mencapai 37,83 miliar saham bersama frekuensi perdagangan sesejumlah 1.336.396 kali.

Di sisi lain, penurunan ini disinyalir adanya pengumuman lembaga pemeringkat MSCI yang ingin menurunkan peringkat pasar modal Indonesia ke Standalone Market. IHSG juga sempat trading halt alias menghentikan perdagangan saham pagi tadi.

Alasan laporan MSCI keluar dipicu oleh kekhawatiran terhadap aksesibilitas investasi, transparansi kepemilikan saham, dan tata kelola pasar modal Indonesia. Dalam pernyataannya, MSCI menyampaikan bahwa rencana perubahan klasifikasi tersebut masih dalam tahap konsultasi.

Keputusan ini menyusul peringatan yang semasih belumnya disampaikan pada Juni 2026, ketika MSCI menegaskan Indonesia berpotensi merasakan reklasifikasi apabila persoalan aksesibilitas pasar tidak kunjung teratasi.

“Oleh lantaran itu, MSCI menganggap klasifikasi Indonesia sebagai Pasar Berkembang yang berkelanjutan tidak lagi tepat dan meluncurkan konsultasi mengenai proposal demi mengklasifikasikan ulang Indonesia sebagai Pasar Mandiri,” kata MSCI dikutip Reuters, Jumat (16/10/2026).

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article