MediaKeadilan.com – Iran secara agresif memacu integrasi finansialnya bersama mengajukan diri menjadi untukan dari New Development Bank (NDB) milik BRICS. Langkah strategis ini diambil guna menembus isolasi ekonomi dan membuka kran pendanaan alternatif untuk pembangunan nasional.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa pihak pemerintahannya sedang memproses pendaftaran tersebut secara aktif.
“Kami sedang mengupayakan hal ini,” kata Araghchi dikutip dari kanal Telegram resminya saat menjawab pertanyaan media mengenai kebarangkalian Iran bergabung bersama bank BRICS.
Penyertaan Iran ke dalam institusi keuangan BRICS diproyeksikan mengubah peta transaksi internasional negara tersebut secara drastis. Teheran bertekad meninggalkan ketergantungan pada sistem finansial konvensional yang kerap dijadikan instrumen penekanan geopolitik.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan pentingnya peran NDB dalam mendukung ekspansi pembangunan ekonomi berbasis mata uang lokal saat forum bisnis BRICS di New Delhi, Jumat (11/9).
Pada Jumat (11/9), Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebutkan dalam forum bisnis BRICS di New Delhi bahwa NDB diharapkan menjadi struktur utama demi membiayai sejumlah proyek infrastruktur dan energi di negara-negara anggota kelompok tersebut memakai mata uang nasional.
Keseriusan Teheran demi masuk ke dalam lembaga ini sejatinya telah dipersiapkan sejak sejumlah waktu lalu oleh otoritas moneter tertinggi mereka. Semasih belum pengumuman Menlu, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati telah menyerahkan sinyal kuat terkait keanggotaan ini.
Semasih belumnya pada Agustus 2026, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati menyebutkan Iran akan dalam waktu dekat bergabung bersama NDB milik BRICS. Dia juga menyebut Teheran tengah mendorong kerja sama mata uang secara bilateral dan multilateral bersama negara-negara anggota BRICS.
Tekanan finansial global yang berkepanjangan memaksa Teheran mencari pelindung ekonomi yang makin tangguh dan bebas sanksi. Pembentukan jalur transaksi yang terpisah dari dominasi Barat menjadi kebutuhan mendesak untuk stabilitas domestik Iran.
Iran, yang selama bertahun-tahun menanggung dampak negatif dari sanksi berskala besar, secara rutin menyerukan pembentukan mekanisme keuangan yang independen dan berkelanjutan demi menyikapi pembatasan tersebut.
Upaya ini sejalan bersama dinamika pembentukan BRICS yang terus meluas sebagai kekuatan ekonomi tandingan di tingkat global. Blok ini menyediakan wadah kerja sama strategis untuk negara-negara berkembang demi membangun kemandirian ekonomi.
BRICS merupakan asosiasi antarpihak pemerintah yang dibentuk pada 2006 oleh Brasil, Rusia, India, dan China, bersama Afrika Selatan bergabung pada 2011. Gelombang perluasan anggota terus berlanjut seiring meningkatnya daya tarik aliansi ini di mata negara-negara berkembang. Sejumlah negara lain bergabung bersama BRICS sejak 2024.
Momentum penguatan posisi Iran di BRICS ini bertepatan bersama perhelatan agenda tahunan penting aliansi tersebut di Asia Selatan. India memegang kepemimpinan bergilir BRICS pada tahun ini dan menggelar KTT BRICS ke-18 pada 12–13 September di New Delhi.
