MediaKeadilan.com – Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat membahas kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Senin (12/102/2026) sore ini. Prabowo menyadari asap dari dampak kebakaran telah melewati batas negara.
Menko Polkam Dudung Abdurahman buka suara menanggapi sejumlah protes yang disampaikan negara tetangga mengenai dampak karhutla di tanah air.
“Iya memang dampaknya kan ke negara-negara tetangga. Makanya beliau amat concern sekali,” kata Dudung semasih belum rapat membahas karhutla di kompleks Istana Kekepala negaraan Jakarta, Senin (12/10/2026).
Dudung menyadari upaya pemadaman karhutla yang berlokasi di lahan gambut tidak mudah.
Meski demikian, ia mengonfirmasi bahwa pihak pemerintah terus menjalankan upaya penanganan.
“Karena memang sejumlah lahan-lahan gambut sih ya yang sulit demi dipadamkan. Tetapi sejumlah usaha-usaha yang kita lakukan, tentunya saya sebagai ketua pengarah demi kebakaran hutan dan lahan ini, ini nanti akan dibahas oleh Bapak Presiden,” ujar Dudung.
Diketahui, karhutla di Kalimantan tak lagi sekadar menjadi persoalan domestik.
Asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menyeberang dan menghantam sejumlah negara tetangga, memicu lonjakan polusi, protes masyarakat sekitar, hingga lumpuhnya aktivitas pendidikan di kawasan regional.
Sejumlah negara tetangga yang terdampak, antara lain Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, sampai Filipina.
Bukan cuma itu, fenomena tahunan yang kembali berulang ini mendulang sorotan tajam dari berbagai media internasional bersama beragam sudut pandang, mengawali dari krisis kesehatan masyarakat sekitar, penyelamatan satwa langka, hingga riak diplomasi antarnegara.
Media internasional Al Jazeera, misalnya, menyoroti dampak buruk kabut asap lintas batas yang melumpuhkan aktivitas publik di Malaysia dan Singapura.
Pemerintah Malaysia terpaksa meliburkan sekolah di Kuala Lumpur, Putrajaya, serta lima negara untukan lainnya yang berdampak pada sekitar dua juta siswa setelah Indeks Pencemar Udara (IPU) menembus angka tidak sehat.
Dikutip dari Al Jazeera, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan keprihatinannya secara terbuka atas krisis udara ini.
“Isu kabut asap ini memang berada pada tingkat yang membimbangkan,” tegas Anwar Ibrahim sebagaimana dilansir Al Jazeera.
Selain memicu penutupan sekolah, Al Jazeerajuga menginformasikan bahwa Keaparatur negara kementerianan Kesehatan Indonesia mencatat makin dari 170.000 kasus infeksi saluran pernapasan akibat paparan asap karhutla.
Media asal Singapura, Mothership.SG, mengulas sudut pandang dari pihak pihak pemerintah Indonesia terkait krisis kabut asap ini.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Syahganda Nainggolan, menegaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada saat ini merupakan fenomena alam di luar kendali manusia.
“Kami menginginkan negara tetangga memahami bahwa ini di luar human error; ini benar-benar fenomena alam,” ujar Syahganda Nainggolan kepada media sebagaimana dikutip dari Mothership.SG.
