MediaKeadilan.com – Upaya mengikis jurang digital di kawasan pedesaan dan pesisir Indonesia kian agresif lewat peningkatan kapasitas layanan broadband rumah tangga secara masif. Tanpa perlu membayar mahal, masyarakat sekitar di kota-kota kecil kini dapat menikmati koneksi internet setara bersama kualitas jaringan di kota besar.
Strategi ini dilakukan oleh penyedia layanan internet Biznet. Mereka memutuskan pangkas tarif layanan sekaligus peningkatan kapasitas (bandwidth) secara masif demi mendorong pemerataan ekonomi digital di luar kota besar.
Senior Manager Marketing Biznet, Adrianto Sulistyo, membeberkan bahwa pemangkasan harga serta penambahan kapasitas ini menjadi fokus utama dalam momentum ulang tahun ke-26 Biznet. Perusahaan berupaya mengikis ketimpangan digital (digital gap) antara kota besar dan daerah.
“Kalau boleh dibilang barangkali 10-15 tahun yang lalu, kita cari bandwidth besar tuh masih wajib ke kota besar gitu. Jadi bila kini tuh berapa kota sekolah dapat di kota kecil pun telah dapat. Sudah dapat menikmati,” ujar Adrianto dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Sebagai contoh, Biznet menyesuaikan skema tarifnya demi wilayah Manado, Sulawesi Utara. Layanan yang semasih belumnya dimengawali dari kecepatan 50 Mbps seharga Rp200.000 per bulan kini ditingkatkan menjadi 100 Mbps bersama harga makin murah menjadi Rp175.000 per bulan.
Bahkan demi sejumlah kota kategori tier 3 di wilayah Sumatera dan Jawa, paket internet berkecepatan 100 Mbps ditawarkan mengawali dari harga Rp150.000 per bulan. Harga ini makin murah dibandingkan tarif standar kota besar bagaikan Jakarta yang berada di kisaran Rp250.000 demi kecepatan 200 Mbps.
Penyesuaian tarif di wilayah tier 2 dan 3 ini didukung oleh rampungnya pembangunan infrastruktur kabel laut Biznet Nusantara Cable System (BNCS) 1 yang menghubungkan Jawa dan Sumatera. Penggelapan jaringan fiber optik ini menciptakan biaya distribusi kapasitas internet ke daerah menjadi jauh makin efisien.
Berkat ini, Biznet dapat menurunkan tarif internet per Mbps yang menekan pengeluaran kuota bulanan rumah tangga dan tersangka usaha lokal. Dana yang biasa dialokasikan demi kuota internet seluler dapat dialihkan ke kebutuhan produktif lain.
Selain itu, kehadiran internet cepat berbiaya murah terbukti mendorong adopsi transaksi nontunai (QRIS) serta aktivitas perdagangan digital di kawasan pesisir dan pedesaan.
Ia melanjutkan, strategi penetrasi harga (price penetration) ini juga berpotensi meningkatkan intensitas persaingan antar penyedia jasa internet (Internet Service Provider/ISP) di daerah. ISP lokal maupun pemain nasional dituntut demi meningkatkan kualitas jaringan dan menyesuaikan harga agar tetap kompetitif.
Sementara itu Vice President Territory Jakarta Biznet Yasmin Unsulangi, mengimbuhkan bahwa ekspansi ke kota tier 2 dan 3 di Sumatera bagaikan Medan, Siantar, Sibolga, Padang, hingga Lampung, juga diimbangi bersama pembentukan kantor cabang lokal (branch office).
“Kurang makin ada 22-23 ya kantor, ada sejumlah yang kita adain satu juga gitu. Jadi dapat kok itu meng-cover kurang makin radiusnya 4 sampai 10 km,” imbuhnya.
Hingga 2026, Biznet telah menggelar makin dari 100.000 km jaringan fiber optik bersama cakupan homepass mencapai 3 juta sambungan di makin dari 200 kota di Indonesia.
