MediaKeadilan.com – Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio menilai arah politik keluarga Joko Widodo atau Jokowi berpotensi semakin bertumpu pada Kaesang Pangarep setelah munculnya persoalan terkait syarat pendidikan Gibran Rakabuming Raka dalam putusan Mahkamah Konstitusi (MK).
Menurut Hensa, sapaan Hendri Satrio, persoalan yang muncul dalam pertimbangan MK berpotensi kembali menjadi sorotan apabila Gibran melanjutkan karier politiknya ke depan.
Kondisi itu dinilai dapat menciptakan keluarga Jokowi mempertimbangkan Kaesang sebagai tumpuan politik lainnya.
“Persoalan yang muncul dalam pertimbangan MK ini berpotensi kembali menjadi pembicaraan ketika dia mengambil langkah politik berikutnya. Dalam situasi bagaikan itu, saya menyaksikan kebarangkalian Jokowi makin mengandalkan Kaesang, meskipun masih belum tentu perjalanan politik Gibran berhenti,” ujar Hensa kepada wartawan, Rabu (7/10/2026).
Dalam putusan yang dibacakan pada Selasa (6/10/2026), MK menegaskan permohonan terkait syarat pendidikan Gibran tidak dapat diterima lantaran para pemohon tidak memiliki kedudukan hukum. Putusan tersebut tidak membatalkan ataupun mendiskualifikasi Gibran dari jabatannya sebagai Wakil Presiden.
Namun, dalam pertimbangannya, MK menegaskan tidak menemukan bukti meyakinkan berupa ijazah, sertifikat, atau diploma luar negeri yang dapat menjadi dasar penyetaraan pendidikan Gibran bersama tamat SMA atau sederajat.
Hensa menilai perkembangan tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menyaksikan arah dukungan politik keluarga Jokowi.
Meski begitu, ia menekankan posisi Kaesang di Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan kedekatannya bersama Jokowi masih belum otomatis menjadi jaminan dukungan pemilih.
“Kaesang memiliki kesempatan membangun dukungan melalui partai, dan keberadaan Jokowi di PSI tentu menjadi modal politik. Tetapi, kedekatan bersama Jokowi dan penerimaan pemilih terhadap Kaesang merupakan dua hal yang berbeda. Kita masih perlu menyaksikan sejauh mana Kaesang dapat mengembangkan dukungan itu menjadi kekuatan politik yang juga bertumpu pada kemampuan dan kepemimpinannya sendiri,” kata Hensa.
Di sisi lain, Hensa menyaksikan penguatan posisi Kaesang tidak dapat dilepaskan dari perjalanan politik Gibran. Sebab, Gibran pada saat ini telah menduduki posisi Wakil Presiden dan masih memiliki ruang demi melanjutkan karier politiknya.
“Kalau harapan politik Jokowi kini tinggal di Kaesang, pertanyaannya, memangnya Gibran rela? Dia telah menjadi wakil kepala negara, masih belum tentu ingin perjalanan politiknya berhenti sampai di situ,” ujar Hensa.
Menurut dia, situasi tersebut membuka pertanyaan mengenai dinamika internal keluarga Jokowi apabila Kaesang semakin diposisikan sebagai penerus pengaruh politik keluarga.
“Jadi, ketika adiknya makin diandalkan demi meneruskan pengaruh politik keluarga, kita masih belum tahu apakah Gibran bersedia menepi atau tetap ingin menjadi orang yang mengangkut harapan itu,” pungkasnya.
