MediaKeadilan.com – Titik Sadrah, Konser Tunggal 20 Tahun for Revenge yang dipersembahkan Antara Suara dan Sony Music sukses dilaksanakan Sabtu (31/10/2026), di Eldorado Sport & Convention Hall, Bandung. Konser ini menghadirkan pertunjukan yang makin dari sekadar perayaan.
Archims Pribadi (Chimot), drummer sekaligus satu-satunya personel pendiri dan anggota orisinal yang masih tersisa, mengumumkan pengunduran dirinya dari band. Setelah menjadi untukan dari for Revenge selama dua dekade, keputusan yang diambil atas rentetan cedera yang dialami Chimot belakang ini menjadikan konser Titik Sadrah sebagai momen perpisahan yang punya arti tersendiri, baik secara personal, juga untuk band maupun para pendengarnya.
“Menjadi untukan dari for Revenge selama 20 tahun merupakan salah satu titik tertinggi dalam hidup saya. Banyak hal yang telah kami lalui bersama, mengawali dari masa-masa sulit sampai dapat berada di panggung ini dan bertemu bersama begitu sejumlah orang yang mencintai musik kami. Tentu tidak mudah demi sampai pada keputusan ini. Namun, saya merasa setiap perjalanan punya waktunya masing-masing. Saya bersyukur dapat menjadi untukan dari cerita for Revenge, dan malam ini menjadi cara yang amat berarti demi menutup babak tersebut,” ungkap Chimot.
Sepanjang pertunjukan, for Revenge mengajak penonton mengikuti satu cerita utuh tentang perjalanan 20 tahun mereka. Cerita tersebut dibangun secara bertahap, mengangkut penonton menyusuri berbagai fase yang sempat dilalui band. Mulai dari jatuh ke titik terendah, berulang kali terjebak dalam konflik yang sama, hingga wajib merelakan seuntukan dari diri mereka. Perjalanan lalu berlanjut menuju jurang emosi terdalam, semasih belum akhirnya sampai pada sebuah penerimaan: titik sadrah atas kepergian Chimot dari for Revenge.
Setiap babak dalam pertunjukan terasa bagaikan potongan perjalanan yang saling terhubung. Deretan lagu yang dibawakan bukan cuma menjadi hiburan untuk penonton, namun juga medium demi menyampaikan cerita dan emosi yang selama ini menjadi untukan dari perjalanan band. Antusiasme penonton yang ikut bernyanyi bersama, ditambah bersama berbagai momen spesial dan kejutan sepanjang konser, menciptakan suasana malam itu terasa semakin dekat dan personal.
Boniex Noer, vokalis for Revenge, menyebutkan bahwa konser Titik Sadrah merupakan persembahan khusus dari band demi merayakan perjalanan dua dekade bersama para pendengar. Menurutnya, 20 tahun bukan cuma tentang perjalanan for Revenge sebagai band, namun juga tentang orang-orang yang tumbuh bersama musik mereka.
“Dua puluh pada tahun ini bukan perjalanan yang senantiasa mudah. Ada sejumlah hal yang telah kami lewati, sejumlah cerita yang barangkali tidak seluruhnya terlihat dari luar. Tapi, kami dapat sampai di titik ini lantaran ada sejumlah orang yang terus berjalan bersama kami, terutama teman-teman yang mendengarkan dan tumbuh bersama lagu-lagu for Revenge. Konser ini merupakan persembahan kami demi mereka. Kami ingin seluruh yang hadir dapat merasakan perjalanan 20 pada tahun ini, bukan cuma sebagai penonton, namun juga sebagai untukan dari cerita for Revenge,” ujarnya.
Sementara itu, CEO Antara Suara, Andri Verraning Ayu, menyaksikan Titik Sadrah sebagai sebuah pengalaman konser yang dirancang demi mengangkut penonton masuk ke dalam cerita yang ingin disampaikan oleh for Revenge.
“Ada pengalaman, cerita, dan rasa sadrah yang kami ingin ciptakan.
Melalui Titik Sadrah, kami menginginkan penonton benar-benar ikut merasakan perjalanan for Revenge selama 20 tahun. Semoga pengalaman menyaksikan 2,5 jam pertunjukan Titik Sadrah dapat menyisakan kenangan seumur hidup untuk setiap penonton yang hadir, juga perasaan sadrah akan hal pahit yang tengah mereka alami hari itu. Karena pada akhirnya setiap orang juga punya cerita dan perjalanan hidupnya masing-masing,” katanya.
Senada bersama hal tersebut, Muhammad Soufan (Bang Munna), Presiden Direktur Sony Music Entertainment Indonesia, turut menyaksikan konser ini sebagai momen penting demi merayakan perjalanan musikal for Revenge. Selama dua dekade, karya-karya for Revenge telah berkembang dan menemukan tempat tersendiri di hati para pendengarnya.
“Selama 20 tahun, for Revenge telah menghadirkan karya-karya yang punya kedekatan tersendiri bersama pendengarnya. Ada sejumlah cerita yang tumbuh melalui lagu-lagu mereka, dan kami menyaksikan Titik Sadrah sebagai momen demi merangkum perjalanan musikal tersebut dalam sebuah pertunjukan yang utuh. Kami menginginkan karya-karya for Revenge akan terus menemani pendengarnya, sekaligus membuka ruang untuk cerita-cerita baru yang akan datang,” katanya.
Pada akhirnya, Titik Sadrah bukan cuma menjadi penanda perjalanan 20 tahun for Revenge, namun juga sebuah pengingat bahwa setiap perjalanan memiliki fase yang wajib diterima, termasuk ketika sesuatu yang telah lama menjadi untukan dari hidup wajib dilepaskan. Melalui cerita yang dibawakan sepanjang konser, for Revenge ingin mengajak setiap orang demi menemukan titik sadrah dalam kisah hidupnya masing-masing. Sebab, barangkali setiap orang punya cerita yang berbeda, namun sama-sama sempat berada di titik ketika menyambut baik menjadi satu-satunya cara demi melanjutkan perjalanan.
Perjalanan Titik Sadrah pun masih belum berakhir. Setelah Jakarta, for Revenge akan melanjutkan rangkaian konser ini ke Kuala Lumpur pada 15 November 2026 di ZEPP Kuala Lumpur. Tiket masih tersedia dan dapat diperoleh melalui situs resmi forrevenge.id. ***
