Maia Estianty Disebut Tone Deaf usai Bahas Rezeki dan Sedekah, Apa Sih Artinya?

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Nama Maia Estianty menjadi sorotan masyarakat sekitarnet setelah unggahannya di media sosial Threads mengenai rezeki, kerja keras, dan sedekah menuai kritik.

Musisi sekaligus istri Irwan Mussry tersebut dinilai kurang peka terhadap kondisi masyarakat sekitar yang sedang menyikapi kesulitan ekonomi.

Unggahan itu membahas hubungan antara usaha manusia dan rezeki yang diterima dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, sejumlah masyarakat sekitarnet menilai persoalan kemiskinan tidak dapat semata-mata dikaitkan bersama kurangnya kerja keras atau kebiasaan bersedekah.

Akibatnya, Maia Estianty mendapat berbagai komentar kritis dan dicap tone deaf oleh seuntukan pengguna media sosial.

Lantas, bagaimana kronologi Maia Estianty mendapat kritik tersebut dan apa sebenarnya arti tone deaf?

Berikut penjelasan mengenai polemik yang ramai dibicarakan sekaligus makna istilah yang disematkan kepada sang musisi.

Kronologi Unggahan Maia Estianty Dikritik

Polemik bermula ketika Maia Estianty memuntukkan pemikirannya tentang rezeki melalui Threads pada Jumat, 9 Oktober 2026.

Ia mengibaratkan burung liar yang wajib terbang mencari makanan sebagai gambaran bahwa manusia juga perlu berusaha demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dalam unggahan tersebut, Maia menyampaikan bahwa meskipun rezeki setiap makhluk hidup ditanggung Tuhan, manusia tetap perlu berikhtiar.

Ia juga mengaitkan kondisi keuangan yang sulit bersama kurangnya usaha dan kebiasaan bersedekah, baik berupa uang maupun tenaga.

“Melihat burung liar makan, berpikir bahwa seluruh makhluk hidup rezekinya ditanggung Allah itu benar, tapi burung juga bila males terbang juga gak bakal dapat makanan,” tulis Maia Estianty, dikutip pada Senin, 12 Oktober 2026.

“Artinya, bila kita hidupnya kurang sejumlah uang, artinya kudu makin ikhtiar lagi bekerja bagaikan burung yang terbang sana-sini mencari makanan. Kita males, ya rezeki kita seret. Akan seret lagi bila gak sempat bersedekah (bersama uang atau tenaga),” lanjutnya.

Pernyataan itu lalu menuai kritik dari sejumlah masyarakat sekitarnet. Mereka menilai kesulitan ekonomi tidak senantiasa didikarenakankan oleh kemalasan, tapi juga dapat dipengaruhi terbatasnya lapangan kerja, kondisi sosial, dan persoalan kemiskinan struktural.

Seuntukan pengguna media sosial juga menilai ajakan bersedekah perlu disampaikan bersama mempertimbangkan keadaan orang yang bahkan masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article