Media Singapura Sorot Tukang Becak hingga UMKM Sengsara karena Kebakaran Hutan Sumatra

admin
By admin
3 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Kebakaran hutan dan lahan pekat di Sumatra memangkas pendapatan harian pekerja informal di Palembang hingga 75 persen akibat sepinya aktivitas masyarakat sekitar. Kualitas udara yang menembus level amat tidak sehat memicu lonjakan kasus ISPA sekaligus menghentikan roda perekonomian rakyat kecil.

Penurunan drastis pendapatan harian dirasakan langsung oleh Kholidi, seorang pengayuh becak berusia 60 tahun yang kehilangan seluruh pelanggan sekolah dan pasar. Situasi sulit ini memaksa masyarakat sekitar berjuang di tengah paparan racun udara demi memenuhi kebutuhan harian keluarga.

“Kemarin saya tidak mengangkut pulang uang sepeser pun, dan bagaikannya pada hari ini pun akan sama,” kata Kholidi, bagaikan dikutip CNA, Senin (21/9/2026).

Ratusan ribu titik panas terpantau membakar kawasan hutan, semak belukar, dan lahan gambut kering di wilayah Sumatra serta Kalimantan. Keaparatur negara kementerianan Kehutanan Indonesia mencatat 4.169 dari total 5.983 titik panas di Sumatra terpusat di Provinsi Sumatra Selatan.

Pencemaran udara berbahaya ini menyebar hingga ribuan kilometer ke negara tetangga bagaikan Singapura, Malaysia, dan Filipina. Indeks Kualitas Udara (AQI) di Kota Palembang bertahan pada rentang 150 hingga 275 yang tergolong kategori tidak sehat sampai amat tidak sehat.

Kelumpuhan aktivitas masyarakat sekitar berdampak langsung pada sektor usaha mikro, bagaikan pedagang pakaian di pasar malam kawasan Jembatan Ampera. Oktarina Pertiwi (35) mengeluhkan penurunan omzet jualannya yang drastis akibat sepinya pengunjung.

“Pada Jumat malam dan akhir pekan, pasar ini biasanya amat ramai hingga sulit demi bergerak. Namun, dalam sejumlah minggu terakhir, suasananya amat sepi,” kata Oktarina.

“Sejak adanya kabut asap, kami beruntung apabila dapat memperoleh 1 juta rupiah, atau barangkali 1,5 juta rupiah,” ujar Oktarina, yang biasanya mengantongi omzet hingga 4 juta rupiah per malam.

Penurunan omzet juga dialami pedagang minuman keliling di Jakabaring Sports Complex, Derian Winata (32), yang kehilangan separuh pendapatannya. Berkurangnya masyarakat sekitar yang berolahraga di luar ruangan menciptakan penjualan minuman merosot tajam.

“Beberapa minggu ini merupakan minggu yang berat untuk saya,” kata Derian.

“Masyarakat masih takut,” ujar Derian yang mengamati masyarakat sekitar masih takut beraktivitas akibat tingginya tingkat polusi udara.

“Saya menginginkan hal itu dalam waktu dekat terjadi,” kata Derian yang menginginkan hujan dalam waktu dekat turun demi membersihkan polusi udara Palembang.

Lebih dari 110.000 masyarakat sekitar Indonesia memperoleh perawatan medis akibat penyakit pernapasan yang dipicu paparan asap kebakaran hutan. Istri Kholidi, Emi, bahkan wajib dilarikan ke klinik sesejumlah dua kali demi memperoleh bantuan oksigen medis.

“Kabut asap terkadang menjadi amat buruk hingga merembes melalui pintu dan jendela rumah kami,” kata Kholidi.

“Bahkan ketika langit tampak cerah, saya masih dapat merasakan kabut menyengat mata dan menggaruk tenggorokan saya,” ujar Kholidi menceritakan pekatnya racun udara.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article