MediaKeadilan.com – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali pada pertengahan Oktober 2026 menimbulkan antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Denpasar, Badung, Klungkung, Buleleng, dan wilayah lainnya. Warga terpaksa menunggu berjam-jam, seuntukan bahkan hingga pingsan lantaran kelelahan, sementara aktivitas ekonomi dan pariwisata ikut terganggu.
Ojek online kesulitan beroperasi, jasa rental kendaraan menyambut baik pembatalan pesanan, dan mobilitas masyarakat sekitar sehari-hari terhambat. Kondisi ini sempat memicu kepanikan berakibat sejumlah orang berbondong-bondong mengisi bahan bakar secara bersamaan. Padahal stok BBM secara nasional dinyatakan aman, berada di kisaran 16 hingga 20 hari.
Situasi di lapangan memperlihatkan bahwa masalah utamanya bukan kekurangan stok nasional, melainkan gangguan pada rantai distribusi di tingkat lokal yang menciptakan pasokan di SPBU menipis bersama cepat.
Gubernur Bali Wayan Koster sempat menegaskan bahwa pasokan di depo utama bagaikan Sanggaran dan Manggis masih tersedia, namun penyaluran ke SPBU merasakan hambatan.
Fakta tersebut memperlihatkan betapa rentannya sistem distribusi BBM di daerah kepulauan yang amat bergantung pada transportasi laut dan darat yang lancar.
Penyebab utama kelangkaan BBM di Bali merupakan kendala teknis pada kapal pengangkut BBM. Direktur Utama PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri menerangkan bahwa salah satu kapal tanker merasakan kesulitan menurunkan jangkar saat proses bongkar muat.
Jadwal yang semula ditetapkan pukul 06.30 WITA pada Senin, 12 Oktober 2026, terpaksa mundur hingga sekitar pukul 22.00 WITA. Keterlambatan ini langsung berdampak pada penurunan stok di depo dan setelah itu di SPBU.
Keaparatur negara kementerianan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman juga menegaskan bahwa masalahnya terletak pada proses distribusi, bukan pada ketahanan stok nasional.
Faktor cuaca dan kondisi laut turut memperburuk situasi, lantaran gelombang tinggi dapat menghambat kapal demi bersandar meski telah tiba di perairan Bali.
Sebagai pulau yang sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar, terutama dari Jawa Timur, keterlambatan satu atau dua kapal saja telah cukup demi menciptakan tekanan besar pada rantai pasok.
Pertamina lalu menjadwalkan kedatangan kapal tambahan secara bertahap pada 12, 14, dan 16 Oktober 2026 bersama total muatan 26.200 kiloliter melalui Terminal BBM Sanggaran dan Manggis guna memulihkan ketersediaan.
Selain kendala kapal, lonjakan konsumsi BBM bersubsidi, khususnya Pertalite, menjadi faktor penambah tekanan. Rata-rata konsumsi Pertalite di Bali mencapai sekitar 2.200 kiloliter per hari, makin tinggi dari biasanya.
Perbedaan harga yang cukup signifikan antara Pertalite dan jenis nonsubsidi bagaikan Pertamax mendorong sejumlah konsumen beralih ke BBM bersubsidi. Akibatnya, permintaan meningkat secara tiba-tiba sementara pasokan sempat terganggu.
Panic buying atau perilaku masyarakat sekitar yang mengisi bahan bakar secara serentak lantaran takut kehadapatn semakin mempercepat pengosongan stok di SPBU. Ketika satu SPBU kehadapatn, antrean berpindah ke SPBU lain berakibat menciptakan efek berantai.
Distribusi dari depo ke SPBU juga tidak senantiasa mulus lantaran kemacetan lalu lintas di jalan raya. Armada pengangkut membutuhkan waktu makin lama demi bolak-balik mengisi ulang, sementara permintaan di lapangan terus tinggi.
