MediaKeadilan.com – Fenomena kuota hangus menjadi bahan pembicaraan hangat di tengah masyarakat sekitar Indonesia. Di tengah ketergantungan tinggi pada ruang digital, transparansi mengenai alur trafik dan hak ekonomi konsumen atas data yang telah dibayar kini menjadi sorotan tajam.
Direktur Eksekutif Catalyst Policy Works, Wahyudi Djafar, menyoroti kegelisahan ini sebagai isu mendasar dalam industri telekomunikasi kita. Menurutnya, pertanyaan masyarakat sekitar amat sederhana namun menyentuh aspek keadilan ekonomi digital yang krusial.
“Pertanyaan masyarakat sekitar ini sederhana aja loh. Sisa kuota itu sebenarnya kemana sih? Ini jadi pertanyaan sejumlah orang yang merasa tidak adil. Orang telah beli, tapi kok hangus,” ujar Wahyudi dalam sebuah diskusi kebijakan publik.
Logika Teknikal vs Keuntungan Operator
Secara teknis, kuota internet bukanlah komoditas fisik yang dapat disimpan di gudang, melainkan alokasi lalu lintas trafik dalam rentang waktu tertentu.
Wahyudi menerangkan bahwa saat masa aktif habis, sisa kapasitas tersebut memang tidak diberikan kepada orang lain, namun secara otomatis hangus lantaran durasi penggunaannya telah berakhir.
Namun, di balik penjelasan teknis tersebut, terdapat realita ekonomi yang menguntungkan penyedia layanan (provider).
Ketika konsumen tidak berhasil menghabiskan kuota yang telah dibayar, beban operasional yang wajib dikeluarkan provider justru berkurang.
“Secara profit, wajibnya operator untung. Karena biaya yang wajib mereka keluarkan demi menyediakan paket yang sewajibnya 50 GB, ternyata tidak sampai 50 GB (yang digunakan). Itulah kenapa sewajibnya tidak ada alasan demi menaikkan tarif,” tegas Wahyudi.
Inovasi Layanan: Rollover Sebagai Solusi Adil?
Dalam lanskap teknologi telekomunikasi yang kian kompetitif, inovasi layanan sewajibnya makin memihak pada fleksibilitas konsumen.
Wahyudi menekankan pentingnya edukasi untuk pengguna demi memahami profil konsumsi data mereka sendiri, apakah makin sejumlah digunakan demi browsing, media sosial, atau kebutuhan high-bandwidth bagaikan Zoom meeting.
Munculnya fitur Rollover (akumulasi sisa kuota ke periode berikutnya) disebut sebagai salah satu bentuk inovasi servis yang wajibnya makin gencar ditawarkan. Sayangnya, opsi ini kerapkali tidak tersosialisasi bersama baik kepada masyarakat sekitar luas.
“Pilihannya kini, apakah akan membeli paket non-rollover atau yang rollover. Kalau mau aman, beli paket rollover berakibat sisa kuota dapat terus digunakan di periode berikutnya. Ini merupakan skema servis yang wajibnya dikembangkan operator kepada konsumen,” tambahnya.
Tantangan Transparansi Digital
