Perang di Arab Saudi Panas Lagi, Riyadh Dibombardir Houthi

admin
By admin
4 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Perang Timur Tengah mendadak bergejolak hebat setelah kelompok Houthi meluncurkan serangan udara mematikan ke jantung pertahanan Arab Saudi. Kerajaan merespons gempuran tersebut bersama menggempur puluhan benteng pertahanan milisi Yaman tanpa dukungan tempur langsung dari Washington.

Serangan balasan koalisi pimpinan Saudi sukses meluluhlantakkan puluhan fasilitas penting kelompok pemberontak di berbagai wilayah Yaman. Gempuran udara ini menyasar infrastruktur krusial, mengawali dari pos komando hingga jaringan komunikasi vital milik Houthi.

Pusat-pusat penyimpanan persenjataan utama milisi tersebut runtuh dihantam artileri koalisi dalam serangan udara beruntun. Penetrasi militer ini menjadi sinyal tegas bahwa Kerajaan tidak tinggal diam atas ancaman keselamatan masyarakat sekitar sipilnya.

Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di X pada Kamis (8/10), juru bicara koalisi Saudi, Mayor Jenderal Turki Al Maliki menyebutkan pihaknya telah menghancurkan 82 target di wilayah Saada, Hodeidah, Al Jawf, dan Marib, Yaman.

Ia menyebutkan target-target tersebut mencakup 11 lokasi penyimpanan rudal balistik yang berada di kawasan pegunungan Saada, serta pusat komando dan kendali, sistem komunikasi, depot rudal dan senjata, serta lokasi berkumpul.

Pemicu utama aksi ketat ini berakar dari gempuran beruntun Houthi ke dua simpul penerbangan sipil Kerajaan. Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menjadi sasaran tembak yang memicu pihak korban jiwa.

Ledakan di area fasilitas umum tersebut merenggut tiga nyawa serta melukai puluhan masyarakat sekitar sipil lainnya. Dampak fatal ini memaksa koalisi bergerak cepat memutus rantai serangan susulan dari wilayah lawan.

Dikutip Al Jazeera, Al Maliki menyebutkan operasi tersebut dilakukan menyusul serangan Houthi yang menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan Bandara Internasional Abha di wilayah barat daya negara itu.

Ia mengimbuhkan bahwa serangan terhadap fasilitas sipil tidak akan dibiarkan tanpa hukuman.

Ketegangan makin memuncak saat peluncur rudal musuh dihancurkan persis ketika pertempuran udara sedang berlangsung intensif. Langkah ini memupus potensi peluncuran proyektil tambahan yang mengincar ibu kota.

“Operasi penghancuran berlangsung di Ibu Kota Yaman, Sanaa, saat musuh menjalankan serangkaian serangan terhadap Kerajaan,” ucap juru bicara koalisi Saudi, Kolonel Turki Al Maliki, di X.

Ancaman yang kian nyata mendorong Putra Mahkota Pangeran Mohamed bin Salman membicarakan opsi bantuan pertahanan bersama sekutu utamanya. Pembicaraan tingkat tinggi pun digulirkan guna memperkuat proteksi wilayah udara Kerajaan dari gempuran roket.

Langkah diplomatik serupa diambil pihak Keaparatur negara kementerianan Pertahanan Saudi saat berdiskusi bersama aparatur negara militer Amerika Serikat. Pihak Kerajaan mendesak adanya keterlibatan armada tempur sekutu demi meredam keganasan milisi Houthi.

Namun, permohonan bantuan militer secara langsung tersebut menemu jalan buntu di Washington. Pemerintah AS memilih membatasi diri dan menepis menerjunkan pasukannya ke arena pertempuran Arab Saudi.

Fokus utama militer AS pada saat ini telah tersedot penuh pada gesekan terbuka mereka bersama Iran sejak sejumlah bulan lalu. Alhasil, Washington cuma menyalurkan pertukaran informasi intelijen secara terbatas tanpa intervensi senjata langsung.

Latar belakang memanasnya kawasan ini tidak terlepas dari rangkaian pertempuran regional yang memicu ketidakstabilan sejak Februari lalu. Ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi kini mencapai titik didih baru di tengah konfrontasi terpisah antara AS dan Iran.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article