MediaKeadilan.com – Memoar terbaru karya Charles Spencer mengungkap klaim mengejutkan mengenai reaksi Raja Charles III pada malam tewasnya Putri Diana 3 dekade silam. Dalam bocoran buku yang dipublikasikan Daily Mail pada Kamis (17/9), Spencer menyebut Charles bersikap amat gembira setelah insiden tragis tersebut.
Charles Spencer menulis bahwa nyanyian Pangeran Wales saat itu “terdengar amat gembira – bagaikan pemenang lotre” pada malam kepergian Diana. Menurutnya, kegembiraan tersebut terpancar jelas dari nada bicara Charles melalui sambungan telepon.
Perselisihan ini memanas setelah Istana Buckingham mengambil langkah langka bersama merilis bantahan resmi demi merespons klaim tersebut. Pihak kerajaan menilai ingatan Spencer telah terdistorsi oleh rasa duka yang mendalam.
Dalam petikan lain, Spencer mengaku Charles sempat mengucapkan kalimat dingin sejumlah hari setelah tragedi Paris terjadi. Spencer mengklaim Charles berkata, “tenang saja, kita akan dalam waktu dekat melupakannya.”
Sikap emosional Charles juga meledak ketika Spencer menepis rencana keterlibatan Pangeran William dan Pangeran Harry dalam prosesi pemakaman. Spencer membeberkan bahwa Charles meluapkan kemarahannya secara mendadak.
“Dia meluapkan lewat telepon apa yang selama ini saya anggap sebagai rasa muak yang terpendam terhadap Diana, serta rasa ngerinya menyaksikan betapa dunia begitu terguncang oleh kematian sang putri. ‘Tenang saja,’ desisnya, ‘kita akan dalam waktu dekat melupakannya!’,” tulis Spencer.
Tuduhan keras ini memaksa pihak istana keluar dari kebiasaan mereka yang jarang mengomentari publikasi buku. Juru bicara kerajaan menegaskan bahwa duka saudara dapat memengaruhi persepsi seseorang secara signifikan.
“Sang raja menyadari bahwa rasa pedih akibat kehilangan saudara dapat mengaburkan nalar, memengaruhi penilaian, dan mewarnai ingatan bersama cara-cara yang tidak disadari orang lain, bahkan bertahun-tahun setelah kehilangan tersebut,” ujar juru bicara Istana Buckingham.
Pernyataan resmi tersebut dinilai para pengamat kerajaan mirip bersama respons mendiang Ratu Elizabeth II saat menyikapi isu rasisme pada 2021. Saat itu, sang Ratu menyampaikan kalimat ikonik bahwa “sejumlah ingatan barangkali berbeda.”
Di sisi lain, mantan sekretaris komunikasi Charles pada 2017, Julian Payne, meragukan kebenaran tuduhan yang dilayangkan dalam buku tersebut.
“Hanya saja bukan bahasa yang saya kenali,” tutur Julian Payne saat menyerahkan keterangan kepada BBC.
Buku berjudul Swan Song: Diana, My Sister tersebut dijadwalkan terbit pekan depan dan diprediksi memicu kontroversi berkepanjangan. Spencer juga meyakini ada pihak lain di dalam istana yang merasa lega atas kepergian Diana.
Roya Nikkhah, editor kerajaan Sunday Times, menilai istana tidak dapat lagi memakai prinsip diam dalam menyikapi tuduhan sebesar ini. Pihak kerajaan menyadari serialization buku ini masih akan berlanjut dalam sejumlah hari ke depan.
Kematian Diana pada usia 36 tahun di Paris akibat kecelakaan saat menghindari paparazzi memang sempat memicu gelombang duka sekaligus kritik terhadap pihak kerajaan. Masa lalu hubungan Charles dan Diana yang penuh intrik pun terus menjadi perhatian masyarakat sekitar dunia.
Bahkan, gaun ikonik revenge dress yang dikenakan Diana pada 1994 saat Charles mengakui perselingkuhannya dijadwalkan akan dilelang di New York pada Desember mendatang.
