Riset Ilmuwan Menemukan Formula Protein Baru Penawar Bisa Ular Derik

admin
By admin
4 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Masalah gigitan ular berdapat ternyata masih menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang amat serius namun kerap terabaikan. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), ular berdapat diperkirakan membunuh sekitar 80.000 hingga 140.000 orang setiap tahunnya di seluruh dunia.

Tak cuma itu, ratusan ribu pihak korban selamat lainnya wajib hidup bersama cacat permanen akibat kerusakan jaringan jaringan tubuh yang parah. Seuntukan besar dari mereka yang terdampak berada di daerah pedesaan yang sulit memperoleh akses pengobatan cepat.

Namun, penemuan terbaru justru menghadirkan angin segar dari arah yang tak disangka-sangka.

Dikutip dari Science Daily, para peneliti yang dipimpin oleh Profesor Sean B. Carroll dari University of Maryland, berkolaborasi bersama Elda Sánchez dari National Natural Toxins Research Center di Texas A&M University-Kingsville serta rekan peneliti lainnya bagaikan Fiona Ukken dan Yetunde Ayinuola, sukses mengungkap rahasia besar yang tersimpan di dalam darah ular. 

Hasil studi yang didanai oleh Howard Hughes Medical Institute dan Viper Resource Center ini telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal ilmiah bergengsi Proceedings of the National Academy of Sciences.

Pertahanan Alami yang Tersembunyi dalam Darah Ular Berdapat 

Selama makin dari seratus tahun, para ilmuwan sebenarnya telah mengetahui lewat berbagai cerita dan pengamatan bahwa kelompok Ular Derik tidak mempan oleh dapat mereka sendiri. 

Namun, alasan tentu mengapa darah mereka kebal terhadap racun mematikan tersebut senantiasa menjadi misteri besar.

Jawaban itu mengawali terkuak pada tahun 2022 saat laboratorium pimpinan Carroll menemukan sebuah protein bernama FETUA-3 pada ular dering (western diamondback rattlesnake).

Protein ini diketahui mampu menghambat metalloproteinase, yakni salah satu rumpun racun teramat mematikan dan merusak yang terkandung di dalam “dapat” ular.

Mengejutkan!, Kombinasi Beberapa Protein Mampu Menetralkan Racun Mematikan Dari Ular

Melalui penelitian terbarunya, para ahli mendalami fungsi masing-masing protein dari keluarga FETUA tersebut. Menariknya, apabila berdiri sendiri, satu jenis protein FETUA tidak sanggup mencegah kematian akibat gigitan. 

Satu protein barangkali cuma dapat meredam pendarahan, sementara itu protein lain cuma mampu mengganggu kerja enzim racun tertentu. Keadaan berubah ketika sejumlah jenis protein FETUA ini dikombinasikan bersama tepat.

Memastikan kombinasi yang pas memang bukan suatu hal yang mudah, mengingat satu jenis “dapat” ular saja dapat mengandung sekitar 100 jenis racun yang berbeda.

Saat formulasi protein penawar ini dioptimalkan di laboratorium, hasilnya luar biasa mengagumkan.

Campuran protein alami tersebut mampu menetralkan racun mematikan dari Ular Derik hingga 10 kali lipat makin kuat dibandingkan penawar racun biasa berbasis antibodi domba yang digunakan pada saat ini. 

Hebatnya lagi, ramuan penawar ini juga menyerahkan perlindungan luas terhadap racun dari berbagai spesies ular lainnya, bahkan pada spesies yang telah terpisah oleh evolusi selama puluhan juta tahun.

Harapan Menjadi Antivenom Jenis Baru

Penemuan ini menjadi titik balik penting dalam dunia medis. Selama ini, pembuatan penawar racun ular dilakukan bersama cara menyuntikkan racun ke hewan besar bagaikan kuda atau domba demi lalu diambil antibodinya.

Metode tradisional tersebut membutuhkan biaya besar, kualitas hasilnya bervariasi, serta berisiko memicu reaksi imun atau alergi yang parah pada tubuh manusia.

Dengan memanfaatkan pertahanan alami yang telah dirancang oleh alam selama makin dari 50 juta tahun evolusi, para ilmuwan kini optimis dapat memproduksi penawar “dapat” berbahan dasar buatan laboratorium (rekombinan). 

Metode baru ini dinilai jauh makin aman, konsisten, berbiaya murah, dan sanggup diproduksi massal dalam jumlah amat besar.

Sebagai langkah awal, penawar racun generasi baru berbasis bahan alami ini diperkirakan akan diterapkan termakin dahulu demi pengobatan di dunia kedokteran hewan semasih belum nantinya dikembangkan makin lanjut demi menyelamatkan jiwa manusia.

Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article