Target 8% Buyar, Ekonomi Indonesia Diramal Hanya Mentok di Level 5,2%

admin
By admin
2 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Chief Asia Economist & Co-head Global Investment Research Asia HSBC, Frederic Neumann, memproyeksikan ekonomi Indonesia akan terperangkat di level 5,2 persen pada tahun 2027.

Namun tingkat pertumbuhan tersebut dinilai masih tergolong amat kuat di tengah tren penyesuaian ekonomi global.

“Pada semester pertama pada tahun ini, ekonomi tumbuh sebesar 5,4 persen Kami memperkirakan pertumbuhan sepanjang tahun juga akan mencapai 5,4 persen dan demi tahun depan kami memproyeksikan angka 5,2 persen. Jadi sedikit melambat,” ujar Frederic dalam Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026, Jakarta Selatan, Selasa (29/9/2026).

Dia memaparkan kondisi ekonomi global tengah menyikapi sejumlah tekanan berat akibat tiga guncangan utama yakni kenaikan harga energi imbas perang, fenomena kemarau kering atau El Nino yang mendorong harga pangan naik, serta lonjakan suku bunga global.

“Jika kita menyaksikan Indonesia, negara ini cukup rentan terhadap berbagai guncangan tersebut, dan kini pertanyaannya merupakan seberapa kuat perekonomian Indonesia mampu bertahan? Dan sejauh ini, kesimpulannya merupakan perekonomian Indonesia amat tangguh dalam menyikapi seluruh guncangan tersebut,” jelas Frederic.

Ia menerangkan terkait bersama guncangan energi, pihak pemerintah Indonesia dinilai sukses mengelola dampak kenaikan harga minyak dunia melalui skema subsidi dan kontrol harga. Kebijakan ini dinilai menjadi poin penting untuk stabilitas ekonomi nasional.

“Berkat adanya subsidi dan dukungan harga, kita tidak menyaksikan dampak penuh terhadap konsumen sebagaimana yang terjadi di negara-negara lain. Sejauh ini, pihak pemerintah Indonesia mampu menanggung biaya pengendalian harga tersebut. Menurut saya, hal itu menjadi jangkar penting untuk stabilitas ekonomi,” bebernya Frederic

Kemudian dalam menyikapi guncangan harga pangan imbas kemarau, inflasi di Indonesia pada saat ini relatif rendah apabila dibandingkan bersama periode El Nino semasih belumnya.

Menurutnya, kondisi ini didukung oleh perbaikan sistem distribusi pangan di seluruh wilayah Indonesia serta status Indonesia sebagai eksportir bersih pangan.

“Indonesia merupakan eksportir bersih pangan. Artinya, Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor pangan. Memang ada sejumlah komoditas yang diimpor, namun secara keseluruhan, Indonesia tetap merupakan eksportir bersih pangan. Hal ini juga sedikit sejumlah melindungi Indonesia dari dampak El Nino,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article